Bekasi Jabar, SIBER88.CO.ID_Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo turun langsung meninjau kondisi jaringan irigasi pertanian di Desa Karangharja, Kecamatan Pebayuran, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (26/9/2026).
Inspeksi mendadak tersebut dilakukan setelah Dody menemukan adanya perbedaan antara laporan yang diterima kementerian dengan kondisi yang dikeluhkan masyarakat, khususnya para petani di wilayah tersebut.
Di lapangan, Dody mendapati hamparan persawahan yang mengalami kekeringan selama kurang lebih tujuh bulan. Sejumlah pemberitaan menyebut luas lahan terdampak mencapai sekitar 1.000 hektare.
Kondisi tersebut semakin menjadi sorotan lantaran saluran irigasi tersier yang seharusnya mengalirkan air ke area persawahan tidak berfungsi. Saluran disebut mengalami sedimentasi dan minim perawatan.
Ironisnya, sumber air sebenarnya berada tidak terlalu jauh dari lokasi persawahan. Aliran sungai dengan debit air yang disebut masih tersedia berada sekitar dua kilometer dari kawasan sawah yang mengalami kekeringan.
Mendapati kondisi tersebut, Dody Hanggodo langsung menghubungi Direktur Jenderal Sumber Daya Air (Dirjen SDA) Kementerian PU Arnold Aristoteles Paplapna Ritiauw melalui sambungan telepon.
Dody meminta agar pejabat pembuat komitmen (PPK) yang berada paling dekat dengan lokasi segera datang dan melihat langsung persoalan irigasi tersebut.
Ketika mendapat jawaban bahwa persoalan akan ditindaklanjuti keesokan harinya, Dody langsung meminta agar tidak menunggu.
“Besok? Sekarang! Besok di mana sih lo? Kan sudah enggak dapat air tujuh bulan, baru besok. Sekarang! Jalan kamu sekarang!” tegas Dody dalam percakapan yang kemudian beredar luas di media sosial.
Dody juga mempertanyakan keberadaan PPK yang bertanggung jawab terhadap wilayah tersebut dan meminta pejabat terkait segera menuju lokasi.
Di hadapan petani dan jajaran teknis, Dody mempertanyakan mengapa persoalan pengairan tersebut dibiarkan berlangsung berbulan-bulan.
“Ini ada saluran tersier, tapi sudah kering. Kata petani di sini mungkin keringnya sudah tujuh bulan. Padahal dekat dari sini, ada sekitar dua kilometer ada sungai yang enggak pernah kering,” ujar Dody.
Ia kemudian mempertanyakan mengapa air dari sungai terdekat tidak segera diupayakan untuk mengaliri jaringan irigasi yang ada.
“Kita kerja gampang saja kan. Bapak tinggal tarik,” katanya.
Bagi Dody, persoalan tersebut bukan sekadar masalah teknis infrastruktur, tetapi menyangkut kebutuhan dasar petani dan keberlangsungan produksi pertanian.
Dalam inspeksi tersebut, Dody juga menyampaikan teguran keras kepada jajarannya. Ia menilai persoalan di lapangan harus segera ditangani dan tidak boleh hanya berhenti pada laporan administratif.
“Berarti anak buah lo, kalau perlu diganti semua saja,” tegas Dody dalam rekaman yang beredar.
Pernyataan tersebut disampaikan Dody saat menyoroti lambannya penanganan kondisi irigasi yang telah berdampak terhadap petani selama berbulan-bulan.
Ia juga mengingatkan jajaran Kementerian PU agar tidak menganggap remeh persoalan pengairan pertanian.
“Hati-hati, loh. Sekali lagi saya ingatkan, hati-hati,” ujar Dody.
Persoalan irigasi menjadi perhatian penting karena ketersediaan air merupakan salah satu faktor utama dalam menjaga produktivitas lahan pertanian.
Temuan di Karangharja menunjukkan bahwa keberadaan sumber air belum otomatis menjamin air sampai ke lahan pertanian apabila jaringan irigasi tidak berfungsi dan pemeliharaannya tidak berjalan.
Karena itu, inspeksi langsung Menteri PU tersebut menjadi sorotan, terutama terkait pentingnya kesesuaian antara laporan administratif dengan kondisi nyata yang dihadapi masyarakat di lapangan.
Kasus Karangharja juga memperlihatkan bahwa persoalan infrastruktur pengairan tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, tetapi juga menyangkut pemeliharaan, pengawasan, respons cepat terhadap keluhan masyarakat, serta koordinasi antarjajaran.
Bagi para petani, persoalannya sederhana: air harus sampai ke sawah.
























