Irjen Pol(Purn) Anton Charliyan : Ada Devide Et Impera Dibalik Pelarangan Ibadah Natal

Jakarta, SIBER88.CO.ID_Pemahaman kita sebagai bangsa Indonesia tentang boleh tidaknya mengucapkan Natal bagi yang beragama kristen, khususnya umat muslim kepada saudara kita umat nasrani mungkin sudah selesai dan sepakat boleh,asal tidak merubah Aqidah.

Hal itu disampaikan Irjen Pol(Purn)DR H Anton Charliyan MPKN dalam pemikiranya terkait pelarangan ibadah natal dirumah pribadi umat kristiani baru-baru ini(25/12/2022).

Menurut Anton Charliyan yang akrab disapa Abah Anton tersebut, dalam rangka habluminanas untuk ikut membahagiakan saudara-saudara kita satu lingkungan sebagai sesama umat dan sebagai sesama warga negara Indonesia, sebagaimana disampaikan salah satu ahli tafsir kitab Al-Quran dan Hadist internasional Prof Dr KH Qurais Shihab.

“Tapi bagaimana dengan pemahaman anggota masyarakat muslim yang lain ??? belum tentu semuanya sepakat dan seirama,”tanya abah Anton.

“Masih banyak yang ragu dan rancu , terutama dari kelompok Islam garis keras yang cenderung intoleran bahkan ada yang bersikap radikal mengharamkannya, karena dengan mengucapkan natal katanya sama dengan mengakui nabi Isa Almasih sebagai ‘Anak Allah’ yang sangat ditentang oleh faham Islam,padahal jika hanya menyampaikan ucapan selamat saja, untuk ikut membahagiakan mereka, tidak berarti meyakini aqidah agama lain,”lanjut mantan Kadiv Humas Mabes Polri.

Anton menyebutkan, sama halnya ketika kita mengucapkan selamat hari kemerdekaan kepada negara Komunis atau negara liberal kan tidak berarti kita jadi seorang komunis atau liberal, demikian juga ketika kita mengucapkan hari Nyepi kepada umat Hindu atau Imlek kepada umat Khonghucu tidak berarti kita jadi Hindu atau Konghucu, sehingga tidak harus ditarik sejauh itu pemahamanya. Prof DR Qurais Shihab menjelaskan semua itu dilakukan hanya sekedar untuk Habluminanas, untuk menjaga hubungan baik antar sesama dan menghargai ajarannya masing-masing.

Anton memaparkan,Namun situasi ini, memang sengaja dibuat sedemikian rupa, terutama oleh anasir-anasir asing yang meminjam tangan kelompok-kelompok Islam garis keras, untuk bisa terus mengadu domba antar umat beragama, khususnya Islam versus Kristen yang ada di Indonesia, karena kristen merupakan agama terbesar ke-2 di Indonesia setelah Islam, jika Hindu yang terbesar ke-2 , pasti benturanya akan lebih besar dengan Hindu, seperti yang terjadi di perbatasan India, Suku Tamil dll. Karena biasanya pola mereka akan membenturkan comunitas terbesar dengan comunitas lain yang dianggap competiternya yang juga besar dan militan, sehingga ketika mengucapkan Hari Nyepi atau Imlek benturanya tidak sebesar Natal.

“Demikian juga kalau menyangkut suku khususnya di pulau Jawa, Sunda dan Jawa akan selalu di benturkan karena Sunda merupakan suku terbesar ke-2 setelah Jawa, jika di Kalimantan sudah sering terjadi Dayak versusMadura, di Sumatera pernah terjadi Melayu versus Bali dll,”terang Anton.

“Dan yang paling seksi benturanya, tentu saja yang menyangkut agama & keyakinan,namun dalam pengucapan Natal ini, hanya terjadi di Indonesia,”tukasnya.

“Di negeri lain baik di Afrika, Asia bahkan di Timur tengah sendiri hampir tidak ada kecuali di Palestina, tapi itu bukan menyangkut aqidah melainkan menyangkut perebutan wilayah yang dikaitkan dengan isue agama,”ujarnya.

Abah Anton merinci,kalau masalah pengucapan Natal ini, ada juga di Asia tenggara, tapi itupun relatif sangat kecil sekali gelombang pusarannya,namun lain sekali dengan yang terjadi di Indonesia, pusaran anginnya kontinue dan besar sekali yang senantiasa muncul setiap tahun di tiap-tiap Natal dan tahun baru seperti sebuah issue peliharaan yang memang sengaja harus dimunculkan….seperti dulu di tahun 2016 muncul di Bandung , dan baru-baru ini tahun 2022 Muncul di Lebak Banten, bahkan jika dilihat lagi rekam jejak kebelakang banyak sekali muncul yang lebih dari itu, yakni sikap Intoleran yang sudah mengarah pada sikap radikal sampai kepada aksi terorisme,yang jelas-jelas diarahkan agar terjadi sentimen agama yang extrim, seperti pelarangan ibadah Natal, saat ibadah gereja digruduk , gereja diserang dilempari, sampai kepada aksi terorisme pengrusakan dan pengeboman gereja itu sendiri(di Malang Jatim, di Sulawesi, Poso, Maluku dll ).

Abah Anton mengingatkan kembali kejadian-kejadian di masa lalu bila melihat pola-pola aksi tersebut sudah banyak diungkap oleh tim Densus 88 Polri,bahwa terbukti adanya campur tangan asing dan jaringan internasional didalam gerakan aksi-aksi terorisme dan radikalisme yang terjadi di negara kita seperti keterlibatan ISIS, Hizbul Tahrir, Jamaah Islamiah, Ikhwanul Muslimin, Taliban, Mujahidin, dll yang ternyata markas besarnya ada di Eropa(Inggris). Jika gerakan-gerakan yang mengatasnamakan Islam secara murni seyogianya markasnya harus ada di negara Islam itu sendiri, tapi ini justru berada di negara lain diluar mayoritas muslim, disini kita harus bisa berpikir cerdas, artinya semua ini murni bukan gerakan agama, tapi merupakan gerakan politik, ikut campurnya Grand design Asing yang meminjam tangan agama , berkedok dan berjubah agama sebagai issue yang memang paling seksi di negara yang dikenal sebagai penganut muslim terbesar di dunia, yang memang tidak menginginkan negara Indonesia yang maha kaya raya ini maju dan modern….. ingat Indonesia jadi negara terjajah bukan karena kekuatan senjata yang hebat dari para kolonialisme, tapi terlebih karena keberhasilan politik adu domba “Devide et Impera” dari pihak yang ingin menguasai sumber daya alam yang ada di tanah air kita.

“Konsep tersebut sampai saat ini masih sangat efektif mereka gunakan , dalam setiap waktu, setiap objek, dan disetiap kesempatan apapun , yg akan dijadikan moment untuk terus memecah belah dan memporak porandakan negara kita tercinta Indonesia,”ucapnya.

“Hal ini bisa dibuktikan saat kejatuhan Orla bung Karno maupun Orba pak Harto karena mereka berdua dianggap sudah tidak sejalan dengan kepentingan-kepentingan asing. maka dari itu saudaraku tercinta agar menyadari semua yang terjadi ini dan betul-betul menjadi catatan untuk lebih mewaspadainya, jangan sampai kita semua terjebak dengan siasat busuk asing yang senantiasa terus mengadu domba sesama anak bangsa,”tegasnya.

“Jangan sampai kita malah menjadi salah satu bagian pelaku dari skenario besar yang mereka buat, karena jika kita lemah dan terpecah, maka dengan leluasa mereka akan menguras seluruh sumber daya alam kita sebagimana yang sudah terjadi di Lybia, Suriah, Yaman , Iraq , Afganistan dll,” seru Anton.

Diakhir penyampaian pemikiranya, Abah Anton yang juga merupakan salasatu tokoh budaya nasional tersebut mengingatkan kembali untuk selalu menjaga keutuhan NKRI, hilangkan segala bentuk kepentingan,baik politik, iedologi, sosial , ekonomi, budaya dll terutama yang menyangkut masalah agama dan kepercayaan, yang merupakan hal paling sensitip yang bisa diledakan setiap saat. Maka dari itu harus saling mengingatkan hal yang sebetulnya sudah sangat basi ini, agar Kita semua harus tetap bergandeng tangan, bila tidak ingin Indonesia hancur terkotak-terkotak karena beribu-ribu kepentingan yang berlainan, baik internal terutama external(pihak asing). Jangan sampai Bhineka Tunggal Ika hanya sebagai sebuah slogan kosong belaka, berbeda-beda, tapi kita harus tetap satu. Jangan malah selalu jadi ajang empuk adu domba devide et impera asing, mulai dari hal yang sepele pengucapan Natal sampai kepada pelarangan beribadah dan mendirikikan rumah ibadah bagi agama yang dianggap minoritas.

Editor : Badruzzaman