Jakarta, SIBER88.CO.ID_Suhu politik kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah mencuat laporan mengenai dugaan pertemuan tertutup antara Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dengan Presiden Uni Emirat Arab, Mohammed bin Zayed Al Nahyan.
Kabar tersebut langsung menarik perhatian publik internasional mengingat kedua tokoh itu memiliki peran strategis dalam dinamika geopolitik Timur Tengah yang hingga kini masih diwarnai berbagai konflik dan ketegangan regional.
Informasi yang beredar menyebutkan bahwa pertemuan tersebut berlangsung secara diam-diam dan membahas sejumlah isu penting terkait stabilitas kawasan. Beberapa sumber menyebut pembahasan meliputi keamanan regional, kerja sama ekonomi, hingga perkembangan konflik yang melibatkan negara-negara di Timur Tengah.
Sejak Israel dan Uni Emirat Arab menjalin normalisasi hubungan diplomatik beberapa tahun lalu, kerja sama kedua negara di berbagai sektor memang terus berkembang. Namun komunikasi tingkat tinggi antar pemimpin negara tetap menjadi perhatian besar, terutama di tengah situasi kawasan yang belum sepenuhnya stabil.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan dikabarkan mengakui adanya pertemuan tersebut melalui akun resmi X milik kantor Perdana Menteri Israel pada Kamis (14/5/2026).
Dalam pernyataan itu disebutkan bahwa Netanyahu melakukan kunjungan secara diam-diam ke Uni Emirat Arab di tengah berlangsungnya operasi militer bertajuk “Roaring Lion”.
“Pernyataan Kantor Perdana Menteri: Di tengah Operasi Roaring Lion, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu secara diam-diam mengunjungi Uni Emirat Arab, di mana ia bertemu dengan Presiden UEA Sheikh Mohamed bin Zayed,” demikian isi pernyataan yang diunggah akun resmi PM Israel.
Namun demikian, pemerintah Uni Emirat Arab langsung membantah laporan tersebut. Melalui keterangan resmi Kementerian Luar Negeri UEA, pemerintah menegaskan tidak ada kunjungan Perdana Menteri Israel maupun penerimaan delegasi militer Israel di wilayah mereka.
UEA menegaskan bahwa hubungan diplomatik dengan Israel selama ini dilakukan secara terbuka dan dalam kerangka resmi yang telah diumumkan kepada publik internasional.
Pemerintah UEA juga menyatakan bahwa hubungan bilateral kedua negara tidak dibangun melalui kunjungan rahasia ataupun pengaturan tersembunyi. Oleh sebab itu, setiap informasi mengenai kunjungan yang tidak diumumkan secara resmi disebut tidak memiliki dasar kebenaran.
Selain itu, pihak UEA mengimbau media internasional agar tetap mengedepankan prinsip akurasi dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi yang berpotensi membentuk persepsi politik tertentu di tengah situasi kawasan yang sensitif.
























