Padukan Pendidikan dan Dunia Kerja, Untara-Gyokai Indonesia Kompeten Tandatangani Kerjasama

Tangerang Banten, SIBER88.CO.ID_Upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sekaligus menekan angka pengangguran di Kabupaten Tangerang mendapat dorongan melalui kolaborasi Gyokai Indonesia Kompeten dan Universitas Tangerang Raya (UNTARA).

Kesepakatan kerjasama ini berlangsung di kantor LPK & SMK Gyokai Indonesia Kompeten di Cisoka pada Senin (2/9/2026).

Kerjasama kedua lembaga tersebut diarahkan untuk memadukan pendidikan dengan dunia kerja. Konsepnya, lulusan SMK tidak hanya mendapatkan ijazah, tetapi juga memiliki kompetensi, pengalaman kerja, penghasilan serta kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana.

Rektor Universitas Tangerang Raya, Mardiyana,mengatakan, kerjasama dengan Gyokai Indonesia Kompeten telah ditandatangani beberapa waktu lalu. Menurut dia, kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan sumber daya manusia, khususnya di Kabupaten Tangerang.

“Alhamdulillah, jadi beberapa waktu yang lalu sudah kita tandatangani kerjasama antara Gyokai Indonesia Kompeten dengan Universitas Tangerang Raya, dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia, khususnya di Kabupaten Tangerang ini,” ungkap Mardiyana.

Dia menilai terdapat tiga persoalan besar yang harus dihadapi, yakni kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan. Ketiganya, menurut dia, dapat diatasi melalui pendidikan yang baik.

Mardiyana mengapresiasi program yang dibawa CEO Gyokai Indonesia Kompeten, Teguh Imam Pambudi, karena memadukan pendidikan dengan dunia kerja.

Dengan pendidikan yang bagus di SMK Gyokai Indonesia Kompeten, kata dia, lulusan nantinya dapat disalurkan ke berbagai perusahaan industri di Kabupaten Tangerang dan tidak menutup kemungkinan ke luar Kabupaten Tangerang.

Program tersebut sekaligus diharapkan menjadi salah satu solusi untuk mengatasi pengangguran.

Mardiyana menjelaskan, setelah lulus SMA atau SMK, anak-anak umumnya berusia sekira 18-19 tahun, atau paling tinggi 20 tahun. Ketika mereka sudah bekerja dan mendapatkan penghasilan, diperlukan arahan agar penghasilan tersebut tidak habis begitu saja.

“Kalau sudah bekerja, otomatis mereka mendapatkan penghasilan. Kalau enggak diarahkan, uang itu enggak akan membekas. Nah, akhirnya kita program, kemudian setelah bekerja harus wajib kuliah,” katanya.

Menurut Mardiyana, dengan melanjutkan kuliah selama empat tahun, ketika memasuki usia 25 tahun, anak-anak tersebut setidaknya sudah menyandang gelar sarjana. Dengan bekal pendidikan dan pengalaman kerja, peluang mereka untuk mengembangkan karier pun semakin terbuka.

“Inilah dengan program ini Insya Allah akan mengangkat martabat Kabupaten Tangerang. Dan ini kira-kira untuk membangun Indonesia, kita mulai dari Kabupaten Tangerang dulu,” tuturnya.

Dia berharap keberhasilan program tersebut nantinya dapat dikembangkan ke daerah lain hingga seluruh Indonesia.

Mardiyana menjelaskan, UNTARA memiliki sejumlah program studi yang dapat menjadi pilihan bagi lulusan yang ingin kuliah sambil bekerja.

Di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, tersedia program studi Manajemen, Akuntansi dan Bisnis Digital. Sementara di Fakultas Teknik terdapat Teknik Industri, Teknik Informatika dan Teknik Sipil.

Konsep kuliah sambil bekerja, menurut dia, memberikan pengalaman berbeda karena mahasiswa tidak hanya memperoleh pendidikan akademik, tetapi juga merasakan suasana pendidikan vokasi secara langsung.

Menurut Mardiyana, pengalaman bekerja membuat mahasiswa lebih memahami penerapan ilmu di lapangan. Berbeda dengan mereka yang sejak kecil hanya belajar teori, tanpa pernah merasakan dunia kerja.

Dengan kuliah sambil bekerja, mahasiswa diharapkan lebih menjiwai ilmu yang dipelajari sekaligus terbentuk menjadi pribadi yang mandiri. Apalagi, jika biaya kuliah diperoleh dari hasil kerja sendiri, mereka tidak lagi sepenuhnya bergantung kepada orang tua.

Mardiyana juga menyebut mahasiswa nantinya dapat mengikuti program magang di berbagai perusahaan selama masa pendidikan.

Madihana menilai Gyokai Indonesia Kompeten merupakan inovasi dan terobosan di bidang pendidikan. Ia menyoroti masih banyak lulusan SMK yang setelah lulus justru menganggur.

Dia berharap terobosan yang dimotori Teguh Imam Pambudi tersebut, dapat membuat pendidikan kembali memiliki ruh. Pendidikan tidak berhenti pada pemberian ijazah, tetapi juga membekali lulusan dengan kemampuan untuk bekerja.

UNTARA, kata Mardiyana, sangat mendukung program tersebut. Terlebih, biaya pendidikan yang ditawarkan relatif terjangkau.

“SPP, hanya UKT kita hanya bulanan, Rp300.000 sampai Rp350.000 per bulan. Itu enggak sampai 10 persen daripada gaji yang diterima di setiap perusahaan,” jelasnya.

“Lebih baik kalian masih muda itu bekerja keras, daripada kerasnya nanti saat kalian sudah tua,” katanya.

“Jangan sampai justru kerja keras kalian setelah kalian nanti usia 50 tahun ke atas. Sudah tenaga pas-pasan, sudah tanggungan sudah banyak. Akhirnya masa tuanya itu enggak bahagia,” tandasnya.

Sementara itu, CEO LPK & SMK Gyokai Indonesia Kompeten mengatakan bahwykolaborasi dengan UNTARA menjadi bagian dari upaya membangun model pendidikan yang tidak semata-mata berorientasi pada keuntungan.

Ia menyebut pihaknya membutuhkan mitra yang memiliki semangat dan visi yang sama dalam membangun pendidikan. Menurut dia, pendidikan tidak seharusnya hanya berorientasi pada profit, karena itu, biaya kuliah di UNTARA yang relatif murah menjadi salah satu alasan kerja sama tersebut dilakukan.

Selain biaya pendidikan, Teguh menilai UNTARA memiliki program Teaching Factory yang memungkinkan mahasiswa belajar sekaligus melakukan produksi secara langsung. Konsep tersebut dinilai sejalan dengan kebutuhan industri.

Teguh menyebut konsep tersebut merupakan terobosan baru. Ia bahkan telah menyampaikan gagasan tersebut kepada sejumlah kepala sekolah lainnya.

Menurut dia, jika program tersebut berjalan, pihaknya ingin ikut membangun generasi yang mandiri dan kreatif.

“Mereka begitu lulus enggak bingung lagi. Mau kuliah enggak punya uang, mau kerja enggak punya kompetensi, enggak ada. Enggak ada cerita,” tegasnya.

Teguh mengatakan program tersebut juga menjadi bagian dari upaya membangun Generasi Emas 2045.

Terkait kemungkinan memperluas kerjasama dengan perguruan tinggi lain, Teguh mengatakan, pihaknya terbuka untuk berkolaborasi dengan siapa saja yang memiliki komitmen terhadap pendidikan dan bersedia menyediakan biaya pendidikan yang terjangkau.

“Kalau semuanya modelnya kayak Pak Mardiyana yang siap dengan biayanya, enggak soal, enggak profit aja pikirannya, siap membantu pendidikan dengan biaya yang murah, kita bisa kolaborasi. Ke siapa saja kita bisa, Insya Allah,” tutupnya.