Abah Anton Bilang Budaya Sebagai Pintu Gerbang Emas Menuju Kejayaan Indonesia

Bandung Jabar, SIBER88.CO.ID_Kebudayaan bagi Anton Charliyan tidak hanya sebuah identitas semata. Secara alamiah Anton Charliyan mendalami kebudayaan dari panggilan jiwa diri sendiri atas apa yang telah beliau lihat saat di Singkawang, Kalimantan Barat.

Banyak orang-orang Tionghoa masih memelihara budayanya hingga saat ini,padahal sejak 400 tahun yang lalu orang-orang Tionghoa mulai menginjakkan kaki di Singkawang Kalbar Indonesia kemudian hidup berkeluarga bahkan nikah dengan orang-orang Indonesia sendiri. Namun sebagai kelompok minoritas kecil, ternyata masih mampu merawat dan memelihara budaya leluhurnya sendiri yakni al masih.

Sigap memainkan seni barongsay dll , dan yang lebih luar biasa mereka semua masih fasih & Lancar menggunakan bahasa induk mereka bahasa ” Ke dan Tio Chu ” sampai saat ini untuk berkomunikasi dengan sesama kelompok warganya.

Hal itu yang membuat mantan Kapolda Jawa Barat tersebut tergugah untuk ikut bisa menjaga dan merawat budaya nhsantara, khususnya budaya Sunda karena beliau terlahir sebagai entitas suku Sunda ( sebagai salah satu entitas yang tergolong mayoritas di Indonesia ).

Apalagi melihat kenyataan saat ini , khususnya di wilayah Depok , Tangerang , Bekasi dan Bogor , yang notabene merupakan wilayah yang berbasis budaya Sunda , sungguh sangat disayangkan sekali, bahwa Anak-anak dan masyarakat di wilayah tersebut sudah jarang yang bisa berbahasa Sunda sebagai bahasa induk mereka.

Ternyata Perkara mayoritas dan minoritas bukanlah suatu hal yang penting untuk bisa memelihara dan merawat budaya .

Bagi Anton Charliyan yang kerap di sapa Abah Anton ini terlebih di Indonesia yang begitu beraneka ragamnya perbedaan etnis budaya dan tradisi , hal ini bila tidak bisa di kelola dengan bijak akan menjadikan potensi ancaman kerawanan tersendiri ynag sangat Serius yang tidak bisa dianggap main-main lagi. Baginya perbedaan adalah sebuah keniscayaan krena jika satu kelompok tidak bisa saling menghargai dan menghormati, serta merasa yang “paling” ter – dan yang paling aku, dari kelompok lain, maka sudah dapat dipastikan akan menimbulkan bibit-bibit disintegrasi dan perpecahan. Untuk itu, ia khawatir bila generasi muda saat ini tidak memahami esensi budaya sebagai entitas jati diri pribadinya dengan benar, maka tidak heran dimasa yang akan datang akan terjadi degradasi moral ahlak dan prilaku, karena masing-masing kelompok dan individunya tidak bisa untuk menjaga, merawat, serta melestarikan sebuah kebudayaan sebagai sesuatu yang mampu menjaga nilai-nilai keharmonian dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Itulah mengapa abah Anton memandang bahwa budaya bukan hanya sebuah identitas dan kultur belaka,tapi lebih jauh dari itu. Melalui budaya, manusia dapat memahami kehidupannya. Memahami esensi hidup dan spiritualnya, untuk menyatu dengan Sang Pencipta dan alam semesta serta mampu berdamai pada diri sendiri maupun lingkungannya.

Budaya yang kental dengan sejarah dan ethika akan menjadikannya sebagai suatu catatan khusus pada zamannya atas apa yang terjadi di masa lalu, kini, dan yang akan datang . Perputaran Cakra Manggilingan yang terus bergerak, meng artikan Sunnatullah kehidupan alam dan sosial yang akan terus bergulir. Antara kehidupan yang terang menuju gelap, atau sebaliknya kehidupan gelap menuju terang. Dalam kutipannya, Abah Anton mengatakan, “Babad saat ini seyogianya harus sudah mulai bergerak menuju ke babad mengisi dan memasuki gerbang Emas Gemah Ripah Lohjinawi ”. Karena kalau membuka gerbang awal sudah dimulai sejak zaman kemerdekaan tajun 1945.

Gerbang Emas ini juga akan bisa mulus terbuka dengan lebar-lebar jika masing-masing individu dan kelompok mampu menjaga harmony antara : agama, budaya adat tradisi dan jiwa nasionalisme cinta tanah air menjadi satu , sebagai sebuah sistem yang terjaga dengan utuh , kokoh dan kuat.

(editor :Badruzzaman)