Abah Anton : Perangi Gerakan Khilafah Adalah Perang Secara Idiologi Bukan Hanya Fisik Semata

Bandung Jabar, SIBER88.CO.ID_Alumnus Peduli Pancasila Jabar menggelar seminar nasional untuk mendorong percepatan UU BPIP karena dengan lahirnya UU tersebut diharapkan bisa menjadi Payung yang kuat untuk melawan gerakan-gerakan, faham, ideologi yang anti Pancasila sebagaimana saat ini sering terjadi.

Irjen Pol(Purn)Anton Charliyan dalam seminar tersebut memaparkan,baik idiologi yang beraliran kiri yang bersifat komunis dan sosialis maupun yang bersifat ekstrim kanan yang mengatasnamakan agama, seperti ideologi NII, khilafah yang dengan terang-terangan mendeklarasikan diri tanpa merasa bersalah. Bahkan dengan lantang menyebut kaum nasionalis sebagai Islam phobia yang anti islam padahal sesungguhnya merekalah yang benar Pancasila Phobia yang Anti Pancasila , Merah Putih dan NKRI.

Untuk itu kata Anton Charliyan yang juga sebagai salah satu tokoh nasional penggiat anti intoleransi dan radikalisme mengatakan agar golongan mayoritas jangan hanya sekedar pandai bicara saja, tapi sudah saatnya harus berani bersikap progresif dan militan, melawan gerakan-gerakan yang aanti Pancasila seperti Khilafah , NII dll.

“Tunjukan bahwa kaum nasionalis itu ada dan masih solid,”tegasnya(27/7/2022).

“Makanya seminar ini pun, jangan hanya sekedar berbicara doang , alias NATO ( Not action Talking Only ), dimana setelah seminar ini selesai lalu bubar begitu saja, akhirnya hanya sebagai retorika dan ceremonial saja, tanpa menghasilkan apa-apa,”lanjut Abah Anton.

“Justru yang paling penting aksi apa yang harus kita lakukan setelah seminar ini ? Sehingga punya dampak yang nyata untuk menekan berkembangnya idiologi semacam Khilafah, NII, JAT , JI dll.. yang sudah terang-terangan mengikrarkan diri bahwa di tahun 2024 harus tegak berdiri baik secara konstitusional maupun inskonstitusional, dan hal tsb betul-betul mereka yakini sebagai garis perjuangan yang pasti tercapai, sehingga bila dilihat dari kronologi diatas , faham tsb betul-betul merupakan ancaman nyata bagi NKRI yang sudah ada didepanmata,”jelas mantan Kapolda Jabar tersebut.

“Kemudian sebagai salah satu antisipasi berperang melawan faham tersebut, kita bukan hanya berperang secara phisik tapi lebih di tataran ideologi , stigma dan pemikiran. Sehingga kitapun harus mampu beraksi ditataran Tersebut,maka dari itu kita pun harus lebih fokus untuk menyiapkan perangkat-perangkat di wilayah itu. Minimal tiap individu mampu menciptakan ketahan keluarga dan lingkungan sekitarnya agar tidak terpapar faham-faham tersebut. karena faham tsb sudah sangat menyebar masuk berbagai sektor baik kampus, sekolah,LSM, Ormas , kelompok budaya, institusi bahkan sampai ke sektor non formal seperti arisan, kelompok alumnus dll,”sambungnya.

“Lebih jauh kita harus mendesak Pemerintah dengan segala cara, baik berupa aksi, deklarasi, seminar maupun dlm bentuk tertulis berupa usulan himbauan dll agar pemerintah jangan slow respon, terkesan berdiam diri saja, terlena seakan-akan tidak ada apa-apa , padahal kita semua tahu bahwa sikon saat ini makin hari makin memanas dan kita semua tidak sedang baik-baik saja… alias sedang sangat resah dan gregetan,”tukasnya.

Menindak lanjuti Seminar ini , pada tgl 17 Agustus 2022 akan digelar upacara khusus peringatan Hari Kemerdekaan, untuk masyarakat umum, komunitas, LSM,paguyuban,padepokan dll, di monumen juang depan Gedung Sate Bandung, jam 08.30 Wib, Bagi seluruh komponen masyarakat yang masih merasa berjiwa nasionalis. Kemudian dilanjutkan dengan Pawai Motor Merah Putih untuk menolak faham Gerakan Khilafah, NII dan sejenisnya, diharapkan seluruh masyarakat Bandung Raya dan jawa barat yang betul masih Cinta NKRI bisa ikut bergabung dalam acara itu.

Hadir sebagai pembicara di seminar Nasional tersebut antara lain : Gus Islah sebagai pakar densus Mabes Polri, Prof Irfan Dir Deradikalisai BNPT, prof Soemitro Aji Dekan UI, Habib Kribo dan acara berlangsung tertib dan penuh semangat. (Bzz)