Musi Rawas Utara, SIBER88.CO.ID_Fenomena yang sangat menyedihkan masyarakat desa Setia Marga Trans Subur disetiap musim hujan datang, mereka selalu cemas dan sedih, kenapa tidak Jalan penghubung antara Desa Setia Marga Trans Subur Sp 4 menuju Kecamatan Karang Dapo, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), ada seperti kubangan kerbau di tengah jalan tersebut, lubang yang berlumpur cukup dalam dan sangat membahayakan para pengguna jalan.
Pantauan TIM, Kamis (13/01/21), ada kerusakan jalan di dekat sungai Putih dan di beberapa titik jalan yang telah menjadi seperti kubangan kerbau. Bahkan tidak jarang banyak kendaraan yang melintas terperosok, dan akhirnya Lekat (bahasa daerah,red) atau tersangkut di kubangan yang berlumpur itu.
Kondisi ini sanagt dikeluhkan oleh pengguna jalan yang kerap melintas, bahkan, sejumlah pengguna jalan menyebut kubangan air tersebut seperti Koolam Lele Jumbo.
“Jalannya sudah jadi kubangan seperti kolam lele jumbo, yang menyedihkan bagi pengguna jalan kubangannya dalam serta dipenuhi air yang berlumpur. Karena dipenuhi air yang bercampur lumpur jadi berapa dalamnya kubangan di jalan ini tidak diketahui dan tentunya ini akan membahayakan para pengguna jalan,ujar Nur (33) salah seorang pengguna jalan yg juga sedang melintas.
Lebih lanjut Nur mengungkapkan, di Jalan tersebut sebagian sudah dicor namun masih ada beberapa titik yang belum dan saat memasuki musim penghujan sudah di pastikan jalan tersebut selalu berubah jadi kubangan yang berlumpur. Ucapnya.
Ada beberapa titik jalan yang memang belum dicor dan sudah pasti mengalami kerusakan, sehingga menggugah hati para pekerja perkebunan sawit dan masyarakat sekitar untuk menimbun jalan yang rusak dengan cara patungan atau swadaya dari warga dan pekerja perkebunan sawit tersebut untuk membeli koral guna untuk menimbun jalan yang telah terlubang seperti kubangan itu, namun hal tersebut tidaklah maksimal karena masih banyaknya mobil muatan berlebih seperti mobil pengangkut buah sawit yang lalu lalang di jalan ini, dan mereka pun tidak pernah terpikir untuk melakukan penimbunan pada jalan yang rusak padahal rusaknya jalan ini karena mereka yang sering lewatinya.
“Dari tahun ke tahun permasalahan jalan yang selalu rusak saat memasuki musim penghujan dan belum ada solusi, dan ini selalu saja terulang,” jelas Nur.
Nur juga menambahkan kalau mau diportal dan mobil pengangkut sawit yang tonasenya berlebih distop, petani sawit mau makan apa kemudian buah sawit yang sudah di panen mau jual kemana bingung juga jadinya.
Kades Setia Marga, Bambang Hadiyanto saat dikonfirmasi membenarkan bahwa jalan didesanya rusak kembali, ada titik baru yang tidak masuk perbaikan kemarin. Saat ini ada tujuh titik yang rusak, sementara yang di dalam desa ada dua titik.
Ini disebabkan curah hujan yang cukup tinggi, banyaknya mobil yang mengangkut buah sawit yang melintasi jalan ini, setiap mobil yg bawak sawit selama ini melebihi kuota. Sementara kualitas jalan tidak sesuai dengan muatan mereka.
“Saat ini ada pengalihan jalan dari Kecamatan Rawas Ilir menuju Kecamatan Karang Dapo akibat perbaikan jalan di Desa Mandi Angin,” jelasnya.
Penanganan sementara seharusnya pihak pekerja serta pemilik perkebunan sawit bahu membahu untuk nyumbang batu, tapi saat ini nampaknya tidak ada perhatian sama sekali.
“Kami juga menghimbau kepada seluruh pengguna jalan untuk bersama-sama mengeluarkan anggaran, kita gotong royong untuk mencari batu dan batasi muatannya,” himbaunya.
Kedepannya, agar Camat dan pihak Pemdes akan memanggil warga untuk musyawarah menyelesaikan masalah jalan ini.
“Juga agar pemerintah Propinsi benar-benar lebih Inten dalam pembangunan jalan ini. Kalau bisa di 2022 ini bisa terselesaikan persoalan jalan ini, jangan setiap tahun masih aja masyarakat menjerit,” harapnya.(tim)
























