Fenomena Batu Lingga Payung Manonjaya: Antara Warisan Sejarah, Budaya Sunda, dan Misteri yang Belum Terpecahkan

Tasikmalaya Jabar, SIBER88.CO.ID_Keberadaan Batu Lingga Payung yang berada di kawasan Kabuyutan Gunung Payung, Dusun Awi Luar, Desa Sirnajaya, Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, terus menjadi perhatian para pemerhati sejarah, budaya, dan pelestari warisan leluhur Sunda. Situs yang berada di kawasan perbukitan tersebut diyakini oleh sebagian kalangan memiliki keterkaitan dengan jejak peradaban Kerajaan Galuh serta perjalanan spiritual tokoh Sunda Kuno yang dikenal sebagai Bujangga Manik.

Ketua Majelis Adat Sunda (MASDA) Jawa Barat, Abah Anton Charlian, menjelaskan bahwa Batu Lingga tersebut dikenal sebagai Batu Lingga Payung karena berada di puncak Bukit Kabuyutan Gunung Payung yang sejak masa lampau dipercaya sebagai kawasan kabuyutan atau tempat suci yang disakralkan untuk kegiatan ritual dan spiritual masyarakat Sunda.

“Menurut berbagai sumber sejarah, naskah kuno, serta tradisi yang berkembang di masyarakat, kawasan Kabuyutan Gunung Payung telah menjadi tempat yang disakralkan sejak masa Kerajaan Galuh. Situs ini merupakan warisan budaya yang patut dijaga, dilestarikan, serta dikaji secara ilmiah agar nilai sejarah dan budayanya dapat dipahami oleh generasi sekarang maupun mendatang,” ujar Abah Anton Charlian.

Menurutnya, sejumlah peneliti dan pemerhati budaya mengaitkan kawasan tersebut dengan isi Naskah Bujangga Manik, sebuah naskah Sunda Kuno yang banyak dijadikan rujukan akademis dalam kajian sejarah Sunda. Dalam naskah tersebut disebutkan adanya sebuah tempat suci dengan lingga yang digambarkan bertatahkan intan permata, yang oleh sebagian kalangan diyakini memiliki keterkaitan dengan Batu Lingga Payung di Kabuyutan Gunung Payung.

Selain itu, naskah tersebut juga mengisahkan keberadaan sejumlah bangunan yang dibangun sebagai tempat tinggal dan pertapaan. Tradisi lisan yang berkembang di masyarakat menyebutkan bahwa Bujangga Manik, seorang pangeran dari Kerajaan Pajajaran yang diyakini merupakan putra Prabu Siliwangi dengan menggunakan nama samaran, pernah singgah dan menjalani pertapaan selama bertahun-tahun di kawasan tersebut dalam perjalanan spiritualnya mengelilingi Nusantara.

Dalam berbagai penafsiran terhadap naskah tersebut, Bujangga Manik dikisahkan membangun tujuh bangunan sebagai tempat tinggalnya dan bermukim selama sekitar sembilan tahun di kawasan Kabuyutan Gunung Payung. Namun demikian, berbagai kisah tersebut masih menjadi bahan kajian para sejarawan dan budayawan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif berdasarkan bukti-bukti sejarah.

Kawasan Kabuyutan Gunung Payung juga memiliki sejumlah situs pendukung yang hingga kini masih dikenal masyarakat, di antaranya Batu Pangasahan Maung yang memiliki guratan menyerupai bekas cakar harimau, dua pohon Kiara Kursi yang diperkirakan telah berusia sangat tua, Cikahuripan yang dipercaya sebagai tempat penyucian diri sebelum memasuki kawasan kabuyutan, serta dua makam kuno yang dikenal sebagai makam Eyang Rama Gumulung Putih dan Eyang Ratu Gumulung Putih.

Menurut tradisi masyarakat setempat, kedua makam tersebut dipercaya berkaitan dengan leluhur pada masa Kerajaan Galunggung era Batari Hyang. Selain itu, hingga kini masyarakat masih mempertahankan tradisi adat Nyagara Gunung dan Nyapu Beberesih Kabuyutan, yang umumnya dilaksanakan setiap bulan Maulud serta menjelang bulan suci Ramadan sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur dan pelestarian kawasan kabuyutan.

Abah Anton menilai bahwa terlepas dari berbagai kisah yang berkembang, kawasan Batu Lingga Payung memiliki nilai penting sebagai bagian dari kekayaan sejarah dan budaya Sunda yang layak mendapatkan perhatian bersama.

“Yang terpenting adalah bagaimana situs ini tetap dijaga kelestariannya. Penelitian arkeologi, sejarah, filologi, maupun kajian budaya perlu terus dilakukan agar berbagai informasi yang berkembang dapat dipahami secara objektif berdasarkan data ilmiah,” katanya.

Hingga saat ini, Batu Lingga Payung masih menyimpan berbagai pertanyaan yang belum sepenuhnya terjawab. Perpaduan antara catatan sejarah, naskah kuno, tradisi lisan, serta kepercayaan masyarakat menjadikan kawasan Kabuyutan Gunung Payung sebagai salah satu situs budaya yang terus menarik perhatian para peneliti, budayawan, peziarah, dan masyarakat yang ingin mengenal lebih dekat warisan peradaban Sunda di masa lampau.