Indramayu Jabar, SIBER88.CO.ID_Dunia pendidikan kembali tercoreng oleh dugaan kasus kekerasan antar pelajar yang melibatkan siswa dari SMPN 1 Sliyeg dan MTsN 3 Indramayu.
Peristiwa pengeroyokan tersebut terjadi saat kegiatan belajar mengajar masih berlangsung, Jumat (24/4/2026) dan mengakibatkan seorang siswa mengalami luka serius.
Korban diketahui merupakan pelajar kelas IX MTsN 3 Indramayu berinisial MYS (16). Ia diduga menjadi korban penganiayaan oleh sekelompok pelajar dari SMPN 1 Sliyeg.
Berdasarkan keterangan yang dihimpun, kejadian bermula ketika sejumlah siswa dipulangkan sekira pukul 11.00 WIB, meskipun kedua sekolah tersebut menerapkan sistem full day school. Saat itu, korban pulang sekolah dengan sepeda motor berboncengan bersama temannya dan sempat berhenti di sebuah warung untuk membeli minuman.
Namun secara tiba-tiba, datang sekelompok pelajar yang diperkirakan berjumlah sekira 10 sepeda motor, masing-masing berboncengan hingga tiga orang. Kelompok tersebut diduga merupakan para siswa SMPN 1 Sliyeg. Tanpa banyak bicara, mereka langsung melakukan pengeroyokan terhadap korban.
Korban dipukuli secara brutal, bahkan diduga menggunakan benda seperti gesper hingga menyebabkan luka serius di bagian kepala dan tubuhnya. Dalam kondisi terdesak, korban berusaha menyelamatkan diri dengan melompat ke aliran sungai jembatan Rangin blok perangan desa Sliyeg Lor lokasi kejadian berlangsung.
Sementara itu, teman korban memilih melarikan diri untuk mencari pertolongan. Korban kemudian berhasil menyelamatkan diri meski mengalami luka parah.
Paman korban, Reka Hendra Yanto, telah melaporkan insiden tersebut ke Polres Indramayu pada hari yang sama.
Sebelumnya,Reka mendatangi pihak sekolah untuk meminta keterangan,namun jawabannya bahwa pihak SMPN 1 Sliyeg tidak mengetahui adanya kejadian tersebut.
Reka menjelaskan bahwa guru Bimbingan Konseling SMPN 1 Sliyeg, Dedi Kuswanto, menyatakan bahwa insiden terjadi di luar lingkungan sekolah.
“Saya tidak tahu apa-apa, kejadian itu terjadi di luar sekolah,” kata Reka menirukan ucapan Dedi Kuswanto.
Hal serupa disampaikan oleh guru BK MTsN 3 Indramayu, Amel, yang mengatakan bahwa seluruh siswa telah dipulangkan sekira pukul 11.00 WIB.
“Saat itu semua siswa sudah pulang. Saya juga kebetulan pulang setelah anak-anak pulang, sehingga tidak mengetahui kejadian tersebut,” lanjut Reka menirukan ucapan Amel.
Namun berdasarkan pengakuan korban, jumlah pelaku diperkirakan bisa mencapai 20 orang. Luka-luka yang dialami korban telah didokumentasikan melalui visum sebagai bukti pendukung laporan.
Peristiwa ini menuai sorotan dari masyarakat sekitar yang menilai lemahnya pengawasan dari pihak sekolah, terutama karena kejadian berlangsung saat jam pelajaran masih berjalan.
Masyarakat mempertanyakan kebijakan pemulangan siswa lebih awal di sekolah yang menerapkan sistem full day school.
Warga juga mendesak pihak sekolah untuk meningkatkan pembinaan karakter siswa serta memperketat pengawasan guna mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.
Kasus ini kini dalam penanganan pihak kepolisian Polres Indramayu untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut.
























