Lampung Selatan, SIBER88.CO.ID_ Selat Sunda sudah kembali tenang akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK), tetapi lima wartawan dan tiga kru kapal Arupadhatu I yang hilang belum juga pulang sejak Senin (7/9/2026) hingga Jumat (18/9/2026).
Setelah tujuh hari pencarian dan tiga hari perpanjangan, Tim SAR Gabungan, termasuk Basarnas, TNI, Polri dan unsur terkait lainnya, akhirnya menghentikan pencarian kapal dan kedelapan orang yang hilang.
Basarnas menyatakan operasi pencarian resmi dihentikan, tetapi penghentian operasi bukan berarti seluruh kemungkinan ditutup. Pemantauan tetap dilakukan melalui jalur pelayaran dan unsur terkait di kawasan Selat Sunda.
Jika kemudian muncul informasi atau petunjuk baru mengenai keberadaan Arupadhatu I dan delapan orang tersebut, operasi SAR dapat kembali dilakukan. Bagi keluarga, kerabatnya bukan hilang tapi belum kembali.
Karena itu, permintaan agar pencarian tidak berhenti pada laut terbuka masih terdengar. Sejumlah wilayah kepulauan di sekitar Selat Sunda hingga perairan Lampung juga diminta kembali diperiksa.
Ada Pulau Panjurit, Pulau Pandang Lunik, Pulau Pandang Balak hingga Pulau Penyu. Mungkin sebuah pulau menyimpan jejak, mungkin sebuah benda terdampar di pantai dan mungkin ada satu petunjuk kecil yang selama ini luput dari pandangan.
Lima wartawan yang hilang adalah M Bagus Khoirunnas dari ANTARA, Arie Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firman Daus dari Anadolu Agency serta Donal Husni, jurnalis lepas.
Tiga kru kapal yang ikut hilang yakni Warta/Surahman sebagai nakhoda, Sukarman sebagai ABK dan Heriyanto sebagai pemandu. Mereka bertolak dari Dermaga Pagedongan Carita Pandeglang Banten pada Senin, 7 September 2026, sekira pukul 14.00 WIB.
Beberapa benda sempat ditemukan di laut, diantaranya jaket pelampung, terpal, helm dan galon, namun benda-benda tersebut belum dapat dipastikan berkaitan dengan Arupadhatu.
























