Kabupaten Bekasi, SIBER88.CO.ID_Temuan dua batu kiser atau batu penggilingan di Kampung Pandawa Lima Desa Segara Jaya, Kabupaten Bekasi menarik perhatian masyarakat dan pemerhati sejarah.
Batu tersebut diduga memiliki keterkaitan dengan aktivitas penggilingan pada masa kolonial Belanda. Temuan itu diketahui pada Sabtu(12/9/2026). Dua batu kiser ditemukan berada di halaman rumah warga Kampung Pandawa Lima.Desa Segara Jaya Kabupaten Bekasi.
Secara bentuk dan ukurannya, batu tersebut disebut-sebut memiliki kemiripan dengan batu kiser yang selama ini dikenal sebagai bagian dari peninggalan sejarah di kawasan Kampung Penggilingan Cakung Jakarta Timur.
Berdasarkan penelusuran sejarah yang disampaikan masyarakat, batu kiser pada masa lalu digunakan sebagai bagian dari alat penggilingan tebu untuk mengolah tebu menjadi gula. Aktivitas produksi gula pada masa kolonial diketahui pernah berkembang di sejumlah wilayah Batavia dan sekitarnya.
Sementara itu, Kampung Penggilingan di Cakung memiliki sejumlah peninggalan batu penggilingan yang menurut informasi masyarakat setempat telah mendapat perhatian dari pihak terkait, termasuk pemerhati sejarah dan kebudayaan.
Kawasan tersebut kemudian dikenal sebagai salah satu wilayah yang memiliki jejak sejarah batu penggilingan, namun, penemuan batu kiser di Kampung Pandawa Lima menjadi perhatian tersendiri karena lokasinya cukup jauh dari kawasan Penggilingan Cakung, terlebih lagi, Kampung Pandawa Lima berada di wilayah pesisir Desa Segara Jaya.
Menurut keterangan sejumlah warga setempat, pada masa lalu tidak pernah diketahui adanya pabrik penggilingan tebu maupun pabrik gula di Kampung Pandawa Lima, bahkan kehidupan masyarakat di kawasan tersebut sejak dahulu lebih banyak berkaitan dengan aktivitas nelayan dan mencari hasil laut.
Keterangan tersebut membuat keberadaan dua batu kiser di lokasi itu semakin menarik untuk ditelusuri. Masyarakat pun mempertanyakan bagaimana batu dengan bentuk menyerupai alat penggilingan tersebut bisa berada di kawasan pesisir Desa Segara Jaya.
Ketua Umum Forum Silaturahmi Betawi Indonesia (FORSBI), Muhammad Jaya, secara tidak sengaja melihat keberadaan dua batu tersebut ketika melintas di Desa Segara Jaya.
Bang Jaya kemudian tertarik untuk menggali lebih jauh informasi mengenai asal-usul dan sejarah keberadaan batu kiser tersebut. Ia berencana mengumpulkan keterangan dari masyarakat, tokoh warga serta para sesepuh atau masyarakat pribumi yang mengetahui sejarah Kampung Pandawa Lima.
Menurutnya, keberadaan benda yang diduga merupakan peninggalan masa lalu tersebut perlu mendapat perhatian agar sejarah lokal tidak hilang begitu saja.
Selain keberadaan batu kiser, sejarah penamaan Kampung Pandawa Lima juga menarik untuk ditelusuri.
Berdasarkan keterangan salah seorang warga, Dani, pada masa awal kawasan tersebut hanya terdapat lima rumah penduduk yang tinggal dan menetap di wilayah Desa Segara Jaya.
Kelima rumah tersebut masing-masing disebut dihuni oleh Edy, Sukron, Timah, Ropidi dan Pajeng.
“Dari lima rumah penduduk itulah yang menjadi cikal bakal nama kampung yang sekarang dikenal dengan sebutan Kampung Pandawa Lima,” ungkap Dani saat ditemui di lokasi.
Seiring berjalannya waktu, jumlah penduduk terus bertambah. Rumah-rumah warga pun semakin banyak dan kawasan tersebut berkembang menjadi permukiman yang lebih ramai. Sebutan Kampung Pandawa Lima kemudian terus digunakan oleh masyarakat hingga sekarang.
Temuan dua batu kiser di Kampung Pandawa Lima kini membuka peluang untuk dilakukan penelitian lebih mendalam mengenai sejarah kawasan pesisir Desa Segara Jaya.
Apakah kedua batu tersebut benar-benar merupakan alat penggilingan tebu pada masa kolonial, bagaimana cara batu tersebut bisa berada di lokasi tersebut serta dari mana asalnya, masih memerlukan kajian dan pembuktian secara ilmiah.
Karena itu, diperlukan penelitian oleh ahli arkeologi, sejarah dan cagar budaya, serta koordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait. Penelitian tersebut penting untuk memastikan usia, fungsi, asal-usul serta nilai sejarah dari dua batu kiser yang ditemukan.
Jika nantinya terbukti memiliki nilai sejarah, keberadaan batu kiser tersebut bukan hanya menjadi cerita masyarakat, tetapi juga dapat menjadi bagian dari jejak sejarah dan kekayaan budaya Desa Segara Jaya, Kabupaten Bekasi.
Temuan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa sejarah tidak selalu tersimpan di museum. Jejak masa lalu terkadang masih berada di halaman rumah warga dan lingkungan permukiman, menunggu untuk ditelusuri dan dikaji secara lebih serius.
























