Kawah Purba Galunggung Jadi Pusat Perhatian Riset Integratif Geologi dan Sosio-Kultural Sunda

SIBER88.CO.ID _ Kawah Purba | Galunggung adalah salah satu kawasan gunung berapi paling penting di Jawa Barat yang menyimpan jejak sejarah alam, budaya, hingga peradaban kuno. Terletak pada koordinat sekitar 7°15′ lintang selatan dan 108°03′ bujur timur, kawasan ini berada di wilayah Kabupaten Tasikmalaya dan sebagian bersinggungan dengan wilayah Garut.

Salah satu ciri paling menonjol dari Galunggung adalah keberadaan kawah purba atau kaldera purba, sebuah struktur alam berukuran raksasa hasil letusan besar ribuan tahun lalu. Kaldera ini membentuk pola tapal kuda yang terbuka ke arah tenggara. Ketingiannya mencapai n 2.240 Mdpl dan Panjang hingga 9 kilometer dengan lebar antara 2 hingga 7 kilometer, serta dinding kaldera yang menjulang tinggi di bagian barat–barat laut. Sementara pada sisi tenggara, dinding kaldera lebih terbuka sehingga membentuk pola lembah dan perbukitan, termasuk kawasan yang dikenal sebagai Perbukitan Sepuluh Ribu, gugusan bukit kecil yang merupakan sisa material piroklastik purba.

Lingkungan di sekitar Galunggung dikelilingi oleh sejumlah gunung lain seperti Gunung Karacak, Gunung Talagabodas, Papandayan, Guntur, dan Cikuray, yang membentuk bentang alam pegunungan selatan Jawa Barat. Dengan keanekaragaman hayati yang kaya, kawasan ini juga menjadi rumah bagi berbagai jenis tumbuhan hutan tropis dan hewan endemik Jawa.

Namun jauh sebelum Galunggung dikenal sebagai gunung aktif, kawasan ini telah dipandang sebagai tanah karuhun, tempat para resi menjalani tapa brata, tempat para tetua adat menyusun aturan kehidupan, dan bahkan menjadi pusat kekuasaan pada masa karatuan di bawah tokoh besar seperti Batari Hyang Janapati.

Di sinilah tatanan karesian, karaamaan, dan karatuan tumbuh secara bertahap, membentuk masyarakat Sunda dengan struktur rohani, adat, dan pemerintahan yang saling melengkapi.

Di tengah seluruh lapisan sejarah itu, terdapat satu keyakinan yang paling dijaga turun-temurun oleh masyarakat sekitar: bahwa di Kawasan Kawah Purba Galunggung bersemayam seorang wali agung, sosok suci yang disebut Eyang Kuncung Putih, seorang Wali Autad yang memiliki tugas menjaga keseimbangan jagat secara batin.

Keberadaan Eyang Kuncung Putih nu calik di Kawah Purba Galunggung bukan sekadar bagian dari cerita rakyat atau legenda setempat, melainkan bagian penting dari identitas spiritual Galunggung. Beliau dipercaya duduk secara gaib di pusat kaldera, menjadi penjaga ketenangan alam, pengayom para peziarah, dan penuntun batin bagi mereka yang datang dengan niat bersih. Banyak tokoh sepuh dan pelaku tirakat merasakan kehadiran energi putih yang lembut, yang diyakini sebagai pancaran dari beliau.

Oleh karena itu, Kawah Purba Galunggung tidak dapat dipahami hanya sebagai fenomena geologi atau situs sejarah. Ia adalah ruang sakral, tempat di mana alam purba, warisan budaya Sunda, dan spiritualitas tingkat tinggi bertemu dalam satu poros. Dan poros itu, menurut masyarakat dari masa ke masa, dijaga dan dituntun oleh Eyang Kuncung Putih sebagai penjaga batin  nu calik Kawah Purba.

Di dalamnya hidup narasi panjang mengenai peradaban Sunda kuno. Dahulu kawasan ini bukan hanya pusat ritual, tetapi juga pusat pendidikan spiritual yang disebut karesian. Karesian adalah sistem ajaran kerohanian yang dijalankan oleh para resi, tokoh-tokoh suci yang menjalani kehidupan tapa dan menjadi penuntun moral masyarakat. Resi-resi ini memimpin wilayah yang disebut kebataraan, yaitu komunitas rohani yang bukan berorientasi pada kekuasaan politik, melainkan pada penjagaan nilai-nilai spiritual nenek moyang.

Galunggung pada awalnya merupakan salah satu pusat kebataraan penting di Tatar Sunda. Barulah kemudian wilayah ini berkembang menjadi struktur pemerintahan berbentuk karatuan atau kerajaan, ketika kepemimpinan rohani berubah menjadi kepemimpinan politis. Peralihan penting ini terjadi pada masa pemerintahan seorang tokoh perempuan besar: Batari Hyang Janapati.

Batari Hyang Janapati — yang nama aslinya Dewi Citrawati — adalah sosok pemimpin spiritual sekaligus penguasa politik yang tercatat dalam Prasasti Geger Hanjuang, prasasti yang ditemukan di lereng Galunggung. Dari prasasti ini diketahui bahwa sekitar tahun 1111 Masehi, ia memegang otoritas tinggi di Galunggung dan memimpin wilayah bernama Rumatak, yang saat itu menjadi pusat pemerintahan. Pada eranya, Galunggung mengalami perubahan dari pusat karesian menjadi kerajaan terstruktur. Ia memperkuat pertahanan dengan membuat parit (nyusuk/marigi), membangun kekuatan tempur, dan menyusun aturan yang mengatur hubungan antara Galunggung dengan kerajaan Sunda di sekitarnya.

Sebagai pemimpin, Batari Hyang Janapati adalah gambaran perpaduan antara kekuatan rohani dan kekuasaan duniawi. Ia memegang ajaran kerohanian Sunda kuno, termasuk nilai-nilai dalam Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian, sekaligus memiliki kemampuan strategis sebagai ratu. Narasi hidupnya sering dipandang sebagai simbol kekuatan perempuan Sunda, kecerdasan batin, dan ketegasan dalam memimpin.

Dengan demikian, Galunggung menjadi kawasan yang kaya makna:

1)       Dari segi geologi, ia adalah kaldera purba besar yang membentuk bentang alam unik.

2)       Dari segi sejarah, ia merupakan pusat kebataraan yang berkembang menjadi kerajaan.

3)       Dari segi budaya, ia menjadi tempat munculnya tokoh besar seperti Batari Hyang Janapati.

4)       Dari segi spiritual, ia menyimpan ajaran resi yang menjadi fondasi nilai hidup masyarakat Sunda kuno.

Kombinasi antara alam yang megah, sejarah yang panjang, dan nilai budaya yang tetap hidup hingga kini menjadikan Galunggung bukan sekadar gunung, tetapi pusat peradaban yang merekam jejak masa lalu Sunda dari zaman purba hingga masa kerajaan

Memasuki masa perkembangan kerajaan-kerajaan di Tatar Sunda, dinamika sosial dan spiritual masyarakat mulai menunjukkan pola yang lebih terstruktur. Di tengah perubahan tersebut, muncul figur-figur yang tidak hanya berperan sebagai pemimpin politik, tetapi juga sebagai penjaga tatanan moral dan spiritual. Dari sinilah konsep kepemimpinan sakral mulai mendapat tempat, menandai hadirnya sosok-sosok bijak yang dipandang mampu menjembatani dunia fana dan nilai-nilai adikodrati. Dalam konteks inilah kemudian muncul pemahaman mengenai Rama Resi Ratu—sebuah gelar yang menggambarkan integrasi antara otoritas kerajaan, kebijaksanaan resi, dan kekuatan spiritual yang dihormati oleh masyarakat pada zamannya.

Karesian – Pusat Kerohanian Galunggung

Pada masa awalnya, Galunggung adalah pusat karesian, yaitu pusat ajaran kerohanian Sunda kuno.

Karesian adalah sistem pendidikan jiwa yang melahirkan para resi, guru spiritual yang hidup dalam kesunyian, menempuh tapa, dan menjaga keseimbangan batin masyarakat.

Di lembah dan punggung Gunung Galunggung, para resi membangun kebataraan, yaitu tempat tinggal kerohanian yang berfungsi seperti asrama suci. Di sinilah ajaran-ajaran tua seperti tuntunan moral, etika hidup, dan ilmu batin dirawat agar tidak hilang ditelan zaman. Karesian bukan kekuasaan politik; ia adalah penjaga nilai leluhur, benteng moral masyarakat Sunda.

Karamaan – Kekuuasaan Adat & Kemasyarakatan

Selain karesian, Galunggung juga mengenal sistem karaamaan.

Karaamaan adalah pusat kepemimpinan adat yang mengatur kehidupan sosial, norma masyarakat, hukum adat, dan tata cara hidup sehari-hari.

Jika karesian mengurusi batin, maka karaamaan mengatur tatanan duniawi masyarakat, seperti:

  1. siapa pemimpin adat,
  2. bagaimana masyarakat bekerja,
  3. bagaimana aturan tanah dan kampung dijalankan,
  4. bagaimana konflik antarwarga diselesaikan.

Karaamaan adalah jembatan antara spiritualitas para resi dan kehidupan sosial rakyat.

Di Galunggung, karamaan dan karesian berjalan berdampingan, saling menjaga keseimbangan antara dunia rohani dan dunia adat.

Karatuan – Lahirnya Kerajaan Galunggung

Pada suatu masa, kekuatan karesian dan karaamaan berkembang menjadi bentuk kepemimpinan baru, yaitu karatuan, atau kerajaan. Perubahan ini mencapai puncaknya ketika muncul seorang pemimpin perempuan yang namanya diabadikan dalam sejarah: Batari Hyang Janapati, atau Dewi Citrawati.

Nama Batari Hyang Janapati muncul jelas dalam Prasasti Geger Hanjuang, prasasti yang ditemukan di lereng Galunggung. Prasasti ini mencatat bahwa pada tahun 1111 M, ia memimpin wilayah Rumatak, pusat kekuasaan Galunggung saat itu.

Batari Hyang Janapati adalah sosok luar biasa karena Ia berhasil menyatukan:

  1. kebijaksanaan spiritual karesian,
  2. kewibawaan adat karaamaan,
  3. dan kekuasaan politik karatuan.

Pada masa pemerintahannya:

  1. Ia memperkuat Galunggung dengan membuat parit pertahanan,
  2. Menyusun pasukan,
  3. Mengatur wilayah perbatasan,
  4. Menegosiasikan hubungan politik dengan Kerajaan Sunda,
  5. Serta tetap menjaga ajaran kerohanian leluhur.

Ia adalah salah satu tokoh perempuan terkuat dalam sejarah Nusantara, pemimpin politik sekaligus pemimpin rohani.

Tempat Bertemu Tiga Pusat Kekuasaan

Karamaan – karesian – karatuan bukan konsep yang berdiri sendiri.

Galunggung adalah tempat di mana ketiganya hidup bersama, membentuk sebuah peradaban utuh:

  1. Karesian → menjaga batin dan moral
  2. Karaamaan → menjaga adat dan tatanan masyarakat
  3. Karatuan → menjaga kekuasaan dan pemerintahan

Ketiganya saling menopang dan menjadikan Galunggung bukan sekadar gunung atau kawasan alam, tetapi sebuah pusat peradaban Sunda kuno.

Eyang Kuncung Putih Kawah Purba Galunggung

Di balik sejarah kerajaan dan spiritualitas resi, masyarakat Galunggung juga meyakini adanya sosok suci yang menjaga kawasan kawah purba —

yaitu Wali Autad Eyang Kuncung Putih, yang disebut nu calik di Kawah Purba Galunggung.

Dalam tradisi tasawuf dan kepercayaan Sunda-Islam lokal, Wali Autad adalah golongan wali tingkat tinggi yang bertugas menjaga keseimbangan bumi secara batin.

Mereka diyakini sebagai penjaga jagat yang tidak menampakkan diri kepada sembarang orang.

Eyang Kuncung Putih digambarkan sebagai sosok berpakaian serba putih, berwibawa, berparas teduh, dan memiliki aura cahaya. Ia tidak tinggal di dunia layak nyata, tetapi “calik” (bersemayam) secara batin di kawasan Kawah Purba Galunggung.

Peran spiritualnya dalam tradisi masyarakat:

  1. menjaga keselamatan kawasan Galunggung,
  2. menenangkan gejolak alam,
  3. menjadi penjaga energi batin bumi,
  4. membimbing para pejalan spiritual yang bersungguh-sungguh,
  5. menjadi pengayom gaib bagi masyarakat di sekitarnya.

Beberapa pelaku tirakat dan tokoh sepuh meyakini bahwa energi putih yang menyelimuti bagian tertentu di kawah purba adalah pancaran karomah Eyang Kuncung Putih.

Ia dianggap sebagai penghubung antara ajaran karesian lama dengan spiritualitas Islam Sunda yang datang kemudian.

Dengan begitu, kehadiran Eyang Kuncung Putih mengikat seluruh perjalanan batin Galunggung:

dari ajaran resi, kepemimpinan adat, berdirinya kerajaan, hingga spiritualitas Islam tasawuf tingkat tinggi.

Peradaban Alam, Sejarah, dan Sepiritualitas

Kini jelaslah bahwa Galunggung bukan sekadar gunung berapi dengan kawah purba raksasa.

Ia adalah tempat bertemunya:

  1. Kekuatan alam purba
  2. Peradaban Sunda kuno
  3. Ajaran resi (karesian)
  4. Tatanan adat (karaamaan)
  5. Kekuasaan kerajaan (karatuan)
  6. Dan penjagaan batin oleh Wali Autad: Eyang Kuncung Putih

Di sinilah alam, sejarah, dan spiritualitas bergabung menjadi satu kesatuan.

Galunggung adalah ruang suci di mana jejak leluhur masih terasa, ajaran resi tetap hidup, kerajaan pernah berdiri megah, dan para wali menjaga keseimbangannya hingga hari ini.

Ringkasan Singkat dari Kajian Kawah Purba Galunggung

Aspek Kajian Uraian Ilmiah
1. Tipe Geologi Kaldera purba hasil runtuhan/kolaps bagian puncak gunung api tua sebelum terbentuknya Kawah Galunggung modern. Diduga bagian dari sistem vulkanik tua di Jawa Barat bagian timur.
2. Usia Geologi Diperkirakan berasal dari fase awal Kuarter (±2,5 juta–11.000 tahun lalu), sebelum aktivitas vulkanik muda Galunggung yang memuncak pada era Holosen.
3. Stratigrafi Terdiri atas endapan lava basaltik–andesitik, breksi piroklastik, endapan lahar purba, serta lapisan tuf yang mengalami pelapukan kuat.
4. Morfologi & Bentuk Kawah Berdiameter luas, dinding kawah terjal, cekungan dalam akibat kolaps magma chamber purba. Saat ini sebagian terisi vegetasi dan sedimen.
5. Evolusi Vulkanik Kawah purba → pembentukan kerucut muda Galunggung → erupsi besar (contoh: 1822 & 1982–1983) → pembentukan kawah muda di dalam struktur lama.
6. Aktivitas Vulkanik Modern Masih aktif secara geologis; terpantau melalui seismik, deformasi, emisi gas, dan suhu kawah. Aktivitas besar terakhir terjadi 1982–1983.
7. Hidrologi Kawasan Cekungan purba berperan sebagai daerah resapan air, pembentuk hulu sungai, serta area penyimpanan sedimen. Memiliki potensi bahaya lahar saat hujan ekstrem.
8. Vegetasi & Ekologi Ditumbuhi hutan sekunder, paku-pakuan, pohon endemik dataran tinggi Sunda. Kawah purba menjadi zona regenerasi ekosistem setelah erupsi besar.
9. Arkeologi & Sejarah Lokal Diyakini sebagai kawasan awal aktivitas manusia Sunda purba; beberapa jejak budaya lisan menyebutnya sebagai wilayah sakral dan pusat kosmologi lokal.
10. Mitologi & Spiritualitas Dihubungkan dengan figur spiritual seperti Eyang Kuncung Putih, penjaga alam Galunggung menurut tradisi Sunda Wiwitan dan masyarakat lokal.
11. Potensi Bahaya Geologi Longsor dinding kawah, erupsi freatik-freatomagmatik, aliran lahar, dan hujan abu. Struktur kawah purba dapat mempengaruhi arah dan intensitas ancaman.
12. Potensi Riset Ilmiah Penelitian morfotektonik, rekonstruksi sejarah erupsi purba, analisis sedimen, pemodelan magma chamber tua, serta kajian budaya–arkeologis.
13. Potensi Geowisata Panorama kaldera purba, trekking ilmiah, edukasi vulkanologi, konservasi hutan tinggi, wisata spiritual tradisi Sunda.
14. Status Konservasi Masuk kawasan lindung dan zona pengawasan vulkanologi; penting untuk ekologi, mitigasi bencana, dan pelestarian budaya lokal.

 

Kajian menyeluruh terhadap Kawah Purba Galunggung menunjukkan bahwa kawasan ini bukan hanya menyimpan jejak sejarah geologi yang kompleks, tetapi juga merepresentasikan hubungan harmonis antara dinamika alam, ekologi pegunungan, dan warisan budaya masyarakat Sunda. Struktur kaldera purba yang terbentuk sejak masa Kuarter menjadi bukti evolusi vulkanik jangka panjang yang masih berlangsung hingga saat ini, sementara nilai spiritual dan tradisi lokal turut memperkaya pemahaman nonmaterial terhadap kawasan tersebut. Dengan menggabungkan perspektif ilmiah, lingkungan, dan budaya, penelitian Galunggung membuka peluang besar bagi pengembangan ilmu pengetahuan, mitigasi bencana, serta konservasi kawasan gunung api strategis di Jawa Barat.

Kesimpulan

Pada akhirnya, seluruh perjalanan sejarah, budaya, dan spiritual Galunggung bermuara pada satu pemahaman: bahwa kawasan ini bukan sekadar wilayah geologi, tetapi pusat energi batin yang dijaga sejak masa Purba. Dari para resi dalam tradisi karesian, para pemimpin adat dalam karaamaan, hingga ratu agung Batari Hyang Janapati dalam masa karatuan — semuanya adalah lapisan-lapisan peradaban yang membentuk Galunggung sebagai ruang sakral Sunda.

Namun di atas semua itu, berdirilah satu penopang spiritual tertinggi:

Wali Autad Eyang Kuncung Putih,

sosok suci yang dipercaya “calik” di Kawah Purba Galunggung, menjaga keseimbangan jagat lewat kekuatan batin yang hanya dimiliki para wali maqam tinggi.

Ia bukan tokoh sejarah yang hanya hidup di masa lalu, tetapi penjaga yang terus hadir hingga hari ini, mengikat seluruh unsur energi Galunggung — alam, manusia, leluhur, dan kekuatan Ilahi. Keberadaannya menjadi jembatan antara ajaran Sunda kuno dengan spiritualitas Islam Jawa-Sunda yang lembut dan penuh hikmah.

Maka Galunggung bukan hanya tempat berdiri kawah raksasa, bukan sekadar sisa letusan purba atau jejak kerajaan kuno.

Galunggung adalah tanah wali, tanah penjaga, tempat di mana Eyang Kuncung Putih melanjutkan tugas sucinya sebagai bagian dari Wali Autad, menjaga:

  1. kestabilan batin alam,
  2. keselamatan masyarakat,
  3. keutuhan adat dan warisan leluhur,
  4. serta kejernihan spiritual bagi siapa pun yang datang dengan hati tulus.

Keberadaan beliau seperti cahaya putih yang tidak tampak mata kasar, tetapi terasa oleh mereka yang peka:

menenangkan, menuntun, dan melindungi.

Dengan demikian, Galunggung berdiri bukan hanya sebagai simbol kekuatan alam, tetapi sebagai pilar spiritual yang dipayungi kehadiran wali pilihan.

Dan selama Wali Autad Eyang Kuncung Putih masih bersemayam di sana, Kawah Purba Galunggung akan tetap menjadi ruang suci yang dirawat, dijaga, dan diberkahi — pusat harmoni antara bumi dan langit.

 

 

 

Sumber :

EKSPEDISI GASANTANA – Penelitian Kawasan Konservasi Puncak Tertinggi Kawah Purba Gunung Galunggung  Kab. Tasikmalaya, Jawa Barat

Charliyan, A. (2021). Pernyataan tentang Galunggung sebagai Kabuyutan dan pentingnya pelestarian warisan leluhur Sunda. Gesuri.id.
https://www.gesuri.id/serba-serbi/anton-minta-hormati-galunggung-sebagai-kabuyutan-b2cz3Zy6U
 Charliyan, A. (2021). Uraian mengenai Kawah Purba Galunggung sebagai lokasi sakral dan tempat upacara kemerdekaan. VOI.id.
https://voi.id/berita/408821/kawah-purba-galunggung-lokasi-sakral-upacara-kemerdekaan-setiap-17-agustus
 Charliyan, A. (2021). Pernyataan tentang pendirian Museum Galunggung dan pelestarian sejarah Sunda. Nusantaranews.co.
https://nusantaranews.co/anton-charliyan-ajak-dirikan-musium-galunggung-sebagai-cikal-bakal-sejarah-sunda-dan-tasikmalaya/
 Dian Nugraha Ramdani, “Sejarah Kerajaan Galunggung, Berawal dari Kabuyutan di Sunda”, DetikJabar. Diakses dari: Detik.com, 24 Maret 2024. detikcom
BATARI HIYANG JANAPATI DALAM PERSPEKTIF GENDER, Jentera: Jurnal Kajian Sastra. OJS Badan Bahasa. ojs.badanbahasa.kemdikbud.go.id
Agung Ilham Setiadi, Kisah Klasik Ratu Galunggung, Batari Hyang Janapati, dan Prasasti Geger Hanjuang, Edu Historia, Desember 2022. Eduhistoria
Berikut Sejarah Gunung Galunggung dan Prasasti Geger Hanjuang”, Jabar News. Jabar News
Zafar Sidik, “Misteri Kerajaan Galunggung”, Ketik News. Ketik News
Sejarah Kerajaan Galunggung, Awal Mula Kabupaten Tasikmalaya”, IDN Times Jabar. IDN Times Jabar
32 Tahun Letusan; Belajar Bersiaga di Kawah Galunggung”, Rumah Pengetahuan. rumahpengetahuan.web.id
Prasasti Geger Hanjuang, Sejarah Peninggalan Kerajaan Galunggung di Tasikmalaya, Ayo Bandung. Ayo Bandung
Tasikmalaya Tempo Doeloe :”Gunung Galunggung Dulu dan Sekarang”, blog Tasikmalaya Tempo Doeloe. tasikmalayatempodoeloe.blogspot.com
Gunung Galunggung, Ensiklopedia Dunia Universitas STEKOM. STEKOM Karyawan Program
Sejarah Letusan Gunung Galunggung 1982, Kompas.com. Kompas Bandung

Oleh : Edih Abdul Rohman