Tasikmalaya Jabar, SIBER88.CO.ID_Irjen Pol(purn) Dr H Anton Charliyan tokoh penggiat budaya nasional mantan Kapolda Jabar, hadir sebagai narasumber utama dalam Webinar Nitikala yang diselenggarakan pada hari Selasa(2O/6/2023) oleh Garda Kemerdekaan dan Gagak Lumejang yang bertema “Rakeyan Sancang Titik Balik memahami masuknya Islam di Nusantara” memaparkan analisanya.
Menurut Abah Anton,berawal dari sebuah ceritra rakyat Jawa Barat yang begitu kuat, yang sampai saat ini masih mengakar di masyarakat, karena memang nusantara ini,khususnya masyarakat Sunda Jabar untuk menelusuri sejarah sangat kental dengan tradisi lisan,makanya zaman dulu para raja atau pembesar kerajaan bila ingin mengetahui sejarah leluhurnya memanggil Juru Pantun. Salah satu pantun yang paling terkenal untuk menelusuri kerajaan Pajajaran dan Prabu Siliwanginya adalah Pantun Bogor. Ini sebagai satu gambaran, betapa kuatnya tradisi lisan di Jawa Barat.
Maka dengan adanya ceritra lisan tentang Prabu Kean Santang bertemu dengan Sayidina Ali, yang begitu kuat yg ada di masyarakat tersebut perlu segera kita sikapi dengan seksama dan kita telusuri kebenaranya secara sciencetifik ilmiah, apakah ada tidak bukti-bukti artefak, peninggalan-peninggalan, tulisan-tulisan,naskah kuno dll, yang mendukung, yang kemudian tentunya harus dikaji dengan berbagai multydisipliner ilmu terkait.
Masih menurut Abah Anton, untuk membuktikan tradisi lisan tersebut, kita coba cek dengan tim khususnya Gagak Lumejang, jejak-jejak maqom yang diduga peninggalan Rakeyan Sancang, salah satunya di gunung Nagara Sancang Garut dan maqom Prabu Kean Santang Gadog Garut. Namun untuk yang di Gadog kita kesampingkan dulu karena titi mangsanya di abad ke 15 – 16 M, jadi kita fokuskan ke gunung Nagara , dan benar saja di gunung Nagara tersebut ada 3 blok makam kuno yang pertama yang paling tinggi satu petilasan makam tersendiri yang ternyata diduga makam Rakeyan Sancang,yang ke 2 , ada 2 makam yang diduga Panglima Utama yaitu Embah Ageung Nagara dan patihnya , yang ketiga, ada 25 makam yang diduga para sahabat dan pengikut setia Rakeyan Sancang,antara lain Sunan Brajasakti dan istrinya Dewi Rarawisa .
Masih menurutnya,batu nisan di tiga komplek tersebut hampir sama merupakan batu Kendan kuno yang oleh penduduk setempat disebut batu Sakoja, justru di blok ke 3 inilah ditemukan nisan bertuliskan huruf arab Gundul yang diduga ada tulisan titi mangsanya yaitu 11 H sampai dengan 119 H, artinya salah satu yang wafat disana lahir 11 H dan meninggal 119 H.
Menurut naskah Wangsakerta Rakeyan Sancang sendiri lahir sekira tahun 591 M , 20 tahun lebih muda dari Rosulullah tahun 571 M sampai dengan 634 M, Beliau merupakan putra prabu Kertawarman raja Tarumanagara ke- 8 dari seorang putri rakyat biasa bernama Arum Honje atau Setyawati anak seorang petani penebang kayu bakar ( Wang amet Samidha) di hutan Sancang di tepi sungai Cikaengan yang bernama Ki Prangdami dan istrinya Nyi Sembada Siwi Candradiwangsa. Merupakan pernikahan diluar istana sehingga tidak diakui fihak istana kerajaan.
Adapun pertama kali Rakeyan Sancang pergi ke tanah arab sekira tahun 641 M , yang bertujuan untuk bertemu dan menguji Sayidina Ali bin Abi Thalib. Kalau menang akan dijadikan sahabat kalau kalah akan dijadikan guru sebagaimana kebiasaanya di Tatar Sunda. Namun beliau kalah dan menjadikan Sayidina Ali sebagai guru dan panutanya.
Di tahun 644 M sampai dengan tahun 650 M beliau ikut syiar Islam untuk menaklukan Tripoli, Cyprus dan Afrika Utara , serta Mesir dan Afganistan, karena ketangkasan dan kemahirannya dalam berperang, beliau di juluki Satria dari Negri Hind ( Jawadwiva ) yang lebih kuat dari 100 orang arab . Kemudian Ketika kembali ke gunung Nagara mendirikan kadatuan Suramandiri , disaat itu karena dianggap sebagai ancaman, sehingga gunung Nagara sempat diserang oleh Sudhawarman raja Tarumanagara ke-9 adik kandung Kertawarman,tapi berhasil dihalau , bahkan sang Raja hampir tewas ditangan Rakeyan Sancang dan pasukannya , namun berhasil diingatkan Brajagiri putra angkat ayahnya yang ada di Tarumanagara, bahwa raja tersebut masih terhitung pamannya tidak baik sesama saudara saling membinasakan. 
Beberapa tahun Setelah itu Rakeyan Sancang kembali berangkat ke Tanah Arab ketika mendengar Sayidina Ali dianiyaya.
Namun Kesempatan tsb digunakan oleh Prabu Nagajaya Warman Raja Tarumanagara ke 10, untuk menyerang Kadatuan Sura Mandiri Gn Nagara sehingga menewaskan hampir seluruh pengikut Rakeyan Sancang yg tinggal di Gn Nagara, Dimana Bekas2 Makamnya pun sampai saat ini masih ada , ratusan bahkan mungkin Ribuan Makam yang berada di bawah Gn Nagara.
Ketika Rakeyan Sancang kembali beliau sangat sedih, kemudian untuk Syiar Selanjutnya beliau membuat Mesjid kecil yg dinamakan Lawang Sanghyang ( Gerbang menuju Allah ) dg ukuran 7 X 9 M, didepanya dibuat kamar kecil ukuran 2 X 2,5 M, dg tiang kayu Pohon Kelapa yg beratapkan ijuk di Nangkapaku atau dikenal Pakenjeng ( Pake Elmu Ajengan ), dan terakhir bermukim di Pasir tujuhpuluh.
Setelah itu ajaran beliau dikenal Sbg Ajaran SELAM SUNDA ( Islam dari Sunda ) yang mensyiarkan tentang Asma Ulhusna Sbg 99 sifat Allah atau dalam bahasa Sunda Allah ,Tuhan itu lebih dikenal dg Hyang /Hwa, sehingga 99 Sifat Allah atau Asmaulhusna tsb lebih akrab dikenal Sbg sifat Para Hyang, sehingga kawasan tersebut selanjutnya di kenal Sbg kawasan Para Hyangan , atau sekarang lebih populer Sbg Priangan.
Semua Ceritra diatas selain dari Naskah Wangsa kerta diambil dari Naskah Babad Sancang.
Intinya ternyata bahwa Syiar Islam telah ada, masuk ke Nusantara semenjak zaman Rosul dan Para Sahabat khususnya melalui Pangeran Rakeyan Sancang yang memang hidup di jaman tsb.
Adapun Hikayat Tentang Sribaduga Malik Al Hind justru ditemukan dari beberapa riwayat Hadis : Ali binm Abdulah Al Aswari, dari Maki bin Ahmad . RH : Abu Al Qorim dari Abu Syafiq Musyafaq sahabat Rosul yg ikut ke Negeri Hind.
HR : Abu Musa Alm Madini yang berbunyi : bahwa pernah ada Seseorang yang bernama Sribaduga Malik Al Hind yang berusia sangat panjang lebih dari 400 tahun , Saat itu Rosulullahpun Heran dan Penasaran sehingga mengutus 10 sahabat yakni Al : Hujaifan bin Yaman , Usamah bin Zaid, Syafinah, Suhaib , Abu Musa Al Ashari, HR : Abu Said Al Hudri dll .Untuk mengecek ke Negri Hind, dan ternyata benar adanya, yang akhirnya Sribaduga Malik Al Hind Bertemu menghadap Rasulullah pada saat berusia 460 Thn, bahkan sempat memberi cindera mata berupa Jahe dan Tembikar Kpd Rosulullah , danm Sribaduga Malik Al Hind Berusia sampai 925 tahun, ada juga yg mengatakan meninggal ditahun 336 H , beliau dikatakan juga Berasal dari Negeri Syahabah, Negeri Sauh , Qannuh dan digelari Abdullah imam Al Samuderi ( Abdulah dari Negeri Samudera yg banyak Pulaunya atau sekarang dikenal Sbg Negara Archipilago atau Kepulauan ).
Yang panjang Kerajaannya 50 Parsak atau 400 Km , mempunyai ribuan Pasukan Gajah dan 120 Ribu Pasukan Tempur.
Mencermati Sribaduga dari Negeri Hind, banyak sekali Negeri yang mengaku SBG Negeri Hind di timur jauh, Ada yang Mengatakan India, ada yg mengatakan Ethiopia karena disebut juga sbg Negeri Habasyah, Ada yang mengatakan Nusantara , Nusantara pun ada yang mengatakan Sriwijaya ada yang mengatakan Sunda.
Berbicara Negri Hind bisa Banyak Versi tapi ketika lebih Specifik digelari Al Samuderi yang berarti Negara yang Dikelilingi Samudera atau Archipilago sepertinya lebih cocok dg Nusantara karena sampai saat ini negeri Kepulauan besar yg ada di Timur jauh hanya Nusantara, makanya tidak salah ketika zaman kolonial Negara kita dikenal Sbg Hindia Belanda.
Namun ada yang lebih Specifik ketika Menyebut Nama SRIBADUGA , satu2 nya Raja yang bergelar Sribaduga hanya ada satu2nya Di kerajaan Sunda Galuh Pajajaran , yang jelas2 tertuang dlm Prasasti Batu Tulis Bogor yang berbunyi : Jayadewata alias SRIBADUGA MAHARAJA Raja Resi Ratu Haji ing Pajajaran .
Kemudian berkaitan dg Pasukan Gajahpun ada Prasastinya SBG Prasasti Airawata Tapak kaki Gajah Kebon kopi Bogor yang menggambarkan Dua Telapak Kaki Gajah yg besar, yg mengisyaratkan Penguasa Negeri tsb mempunyai Pasukan Gajah yg kuat dan Banyak,
Demikian juga dg Pusat Kota yg berjarak 400 km , selaras dg teritori Kerajaan Sunda dari ujung kulon sampai Cilacap berjarak 400 km.
Dengan Demikian Sribaduga Malik Al Hind tidak berlebihan jika kita katakan berasal dari Tatar Sunda Nusantara.
Sehingga dg Demikian makin Menguatkan bahwa Islam Masuk dan Berkembang Di Nusantara memang sejak Zaman Rosulullah masih hidup.
Dan yang lebih Menggembirakan Nusantara punya 2 Tokoh besar Sbg Pendahulu dan Penyebar Syiar Islam yaitu Sribaduga Malik Al Hind dan Pangeran Rakeyan Sancang. Belum lagi tercatat Sahabat2 orang Kepercayaan dari kedua tokoh tsb seperti tercatat ada Nama Prabu Boros Ngora di Panjalu, ada Eyang Sempak Waja di Walahir Singaparna Tasik dg artefak makam kuno muslim kira2 1700 makam, ada Syekh Abdulah Rukman di Limbangan Garut yang tercatat dlm Wawacan Suryadiningrat dll. Lebih jauhnya kita semua harus membentuk team untuk mengadakan Penelitian lebih lanjut karena hal ini merupakan aset Sejarah yg luar biasa yang bisa merubah Paradigma bahwa penyebaran Agama ini hasil para Saudagar Asing dari Gujarat yang datang ke Nusantara di abad 10 keatas sampai zaman Wali songo , padahal ternyata sudah ditemukan sejak Zaman Nabi dan Sahabat dengan jelas, hasil tangan tokoh leluhur kita sendiri. Yang harus kita perkuat dg berbagai Multi disiplin Ilmu Secara Ke Indonesian. Demikian Disampaikan oleh Abah Anton Charliyan dlm kata penutupnya dlm Webinar tersebut.
























