Tim MASDA Jabar Silaturahmi ke Kampung Adat Dukuh Garut, Dorong Pelestarian Budaya dan Pemberdayaan Masyarakat

Garut Jabar, SIBER88.CO.ID_Tim MASDA Jawa Barat di bawah pimpinan Ketua Umum Abah H. Anton Charly bersama Ir. Deden Hidayat serta staf yang terdiri dari Abah Iwan, Ambu Ida, Bu Maria, Dindin Mauludin, dan M. Rifai N., melaksanakan kunjungan silaturahmi ke Kampung Adat Dukuh yang berada di Desa Cikelet, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut.

Kedatangan rombongan disambut hangat oleh Sesepuh Kampung Adat Dukuh, Mama Uluk, didampingi Uwa Buloh Ibrahim, Ketua RT Kang Yayan, serta masyarakat adat setempat. Kunjungan tersebut menjadi ajang mempererat silaturahmi sekaligus melihat langsung kondisi kehidupan masyarakat adat yang masih teguh menjaga warisan leluhur.

Kampung Adat Dukuh memiliki luas sekitar 13 hektare, terdiri atas 12 hektare kawasan hutan larangan dan 1 hektare kawasan permukiman. Kampung adat terbagi menjadi Kampung Dalam yang dihuni sekitar 40 kepala keluarga dan Kampung Luar sebanyak 79 kepala keluarga. Berada di ketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan laut, kawasan ini dapat ditempuh sekitar dua jam perjalanan dari Kota Garut atau sekitar empat setengah jam dari Bandung.

Di kawasan Kampung Dalam terdapat makam petilasan Syekh Abdul Jalil, pendiri Kampung Adat Dukuh, yang dikenal pernah menjadi Penghulu Sumedang Larang pada masa Pangeran Rangga Gempol atau Raden Aria Suradiwangsa pada abad ke-17.

Masyarakat Kampung Adat Dukuh mayoritas bermata pencaharian sebagai petani, buruh, peternak, dan penyadap. Mereka tetap memegang teguh berbagai aturan adat (pamali), di antaranya larangan penggunaan listrik, bangunan berbahan semen dan genteng di Kampung Dalam, larangan mengenakan pakaian bermotif batik saat berziarah ke makam Syekh Abdul Jalil, serta berbagai ketentuan adat lainnya yang diwariskan secara turun-temurun.

Tradisi adat yang masih rutin dilaksanakan antara lain Upacara 14 Maulid, Upacara Cebor 40, Ngahaturanan Tuang, Ziarah Makam, serta tradisi memasuki Hutan Larangan. Berbagai prosesi adat dalam pernikahan, kelahiran, khitanan, hingga kehamilan juga masih dijalankan sesuai tradisi leluhur.

Dalam bidang kesenian, masyarakat terus melestarikan seni Terbang Sejak, Gembrung, Tarawangsa, pencak silat, dan debus. Sementara kehidupan religius masyarakat sangat kuat, ditandai dengan tradisi kentongan (kohkol) setiap menjelang Subuh untuk mengajak seluruh warga melaksanakan salat berjamaah. Pendidikan agama juga terus berjalan melalui madrasah dan pengajian rutin bagi anak-anak maupun kaum ibu.

Meski kaya akan nilai budaya dan spiritual, kondisi Kampung Adat Dukuh saat ini memerlukan perhatian serius. Sekitar 60 hingga 80 persen rumah adat mengalami kerusakan, mulai dari atap ijuk yang bocor, bilik bambu yang rusak, hingga tiang kayu yang lapuk akibat usia dan rayap. Kondisi masjid, madrasah, gerbang, area parkir, serta fasilitas umum lainnya juga membutuhkan renovasi.

Selain itu, akses jalan sepanjang sekitar 9 kilometer menuju Kampung Adat Dukuh dari jalur lintas selatan Rancabuaya mengalami kerusakan cukup parah sehingga menyulitkan mobilitas masyarakat maupun wisatawan.

Dalam dialog bersama masyarakat adat, disampaikan pula bahwa hingga kini Kampung Adat Dukuh belum memiliki tanah ulayat sebagai lahan garapan bersama. Mereka berharap adanya dukungan berbagai pihak agar tersedia lahan produktif yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa mengganggu keberadaan Hutan Larangan.

Tim MASDA Jawa Barat mencatat sejumlah kebutuhan prioritas yang perlu mendapat perhatian, di antaranya renovasi menyeluruh rumah adat dan fasilitas ibadah, perbaikan akses jalan, subsidi minyak tanah bagi warga Kampung Dalam, penyediaan tanah ulayat, penataan area parkir dan pembangunan gerbang bernuansa etnik, penambahan sarana kesenian tradisional, pengembangan tanaman produktif dan tanaman obat keluarga, bantuan ternak, penataan lingkungan dan sistem pengairan, penyediaan kendaraan siaga berupa ambulans maupun kendaraan angkut hasil pertanian, serta pengelolaan kebersihan melalui penambahan tempat sampah.

Permintaan khusus juga disampaikan oleh Sesepuh Adat Mama Uluk agar segera dilakukan gerakan reboisasi besar-besaran di kawasan Gunung Papandayan. Menurutnya, kawasan tersebut merupakan hulu dari tiga sungai besar di Jawa Barat, yakni Sungai Citarum, Cimanuk, dan Ciwulan. Berkurangnya pohon-pohon besar akibat penebangan dan alih fungsi lahan dikhawatirkan akan memicu krisis air, longsor, dan banjir di masa mendatang.

Ketua Umum MASDA Jawa Barat, Abah H. Anton Charly, menyampaikan bahwa kunjungan ini merupakan bagian dari komitmen MASDA untuk ikut menjaga kelestarian adat, budaya, lingkungan, serta mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat adat melalui sinergi dengan berbagai pihak.

“Kampung Adat Dukuh merupakan warisan budaya yang harus dijaga bersama. Pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas hidup masyarakatnya agar nilai-nilai luhur tetap lestari dan mampu diwariskan kepada generasi mendatang,” ujarnya.