Ajudan Kapolda Kaltara Tewas, Mantan Pejabat Polri Bereaksi

Tasikmalaya Jabar,SIBER88.CO.ID_Kasus tewasnya Brigpol Setyo Herlambang, ajudan pribadi Kapolda Kalimantan Utara, Irjen Daniel Aditya Jaya di rumah dinas pada Jumat (22/9/2023)pekan lalu disebut para pengamat dan mantan pejabat Polri terlalu banyak kejanggalan untuk dikatakan penyebabnya adalah kelalaian.

Hal itu terungkap dalam diskusi Kompas Petang, Kompas TV, Kamis(28/9/2023).

Karena itu, mereka mendorong Mabes Polri dan Komnas HAM menginvestigasi peristiwa tersebut agar menjadi bahan perbaikan bagi institusi Polri di masa mendatang.

Mantan Kadiv Humas Polri, Irjen Pol (Purn)Dr H Anton Charliyan MPKN mengatakan, Polda Kaltara terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa penyebabkan kematian korban akibat kelalaian.

Anton Charliyan menilai janggal jika Brigadir SH, pengawal pribadi Kapolda Kalimantan Utara meninggal tertembak saat membersihkan senjatanya sendiri.

“Kalau saya lihat dari berbagai media, yang bersangkutan ini sedang membersihkan senjata.Kalau alasannya membersihkan senjata, memang agak janggal ya, karena membersihkan senjata itu ada prosedurnya,”ucap Anton.

Anton Charliyan juga mempertanyakan alat bukti berupa peralatan yang digunakan sebagai pembersih senjata api korban.

“Kita bisa melihat adakah alat bukti yang merupakan alat pembersih senjata?.Kemudian saya dengar juga di sini, proyektil belum ketemu. Nah di sini juga sangat menentukan proyektil itu, apakah dari jarak dekat, jarak jauh atau bagaimana ???,”sambungnya.

Mantan Kadih Humas Polri kemudian menyebut dua kemungkinan lain pada kematian korban, yakni kemungkinan bunuh diri atau menjadi korban pembunuhan.

Dalam dialog tersebut, Anton juga menyatakan bahwa rekaman kamera pengawas atau CCTV bisa menjadi alat bukti petunjuk.

“Saya kira CCTV itu penting untuk menentukan saat kejadian yang disebut tempus delicti, jadi tidak harus di dalam saja. Kita bisa melihat kapan korban itu masuk dan kapan korban itu keluar,”lanjutnya.

“Nah, diantara keluar dan masuk ini, ada orang masuk atau tidak? Kalau tidak ada berarti tidak ada orang di ruangan itu,atau setelah korban jadi mayat, adakah orang yang keluar dari kamar tersebut ?, kalau ada orang yang keluar dari kamar tersebut, bisa diduga orang tersebut adalah yang melakukan.

Dia menambahkan, ada terlalu banyak kejanggalan.Pertama, Brigpol Setyo yang menjabat sebagai pengawal pribadi pemimpin tertinggi di daerah tidak sembarangan dipilih.Setidaknya, pengawal pribadi harus tahu tata cara penggunaan senjata dan dia harus betul-betul seorang penembak yang mahir.

“Ini karena tugasnya menjaga pimpinan.Dia bukan polisi yang diangkat atau dilantik kemarin sore, tapi berpengalaman,”terangnya.

Anton Charliyan menurturkan,apalagi dia anggota Banit 3 Subden 1 Den Gegana Satbrimob. Sekarang apa iya, sekelas dia tidak bisa membersihkan senjata? Mestinya tahu… kalau senjata revolver gimana mengosongkannya tutup kepala pasti hapal.

Kedua,kata mantan Kapolda Jabar ini, peristiwa itu terjadi di rumah dinas dan di saat masih jam dinas. Sebagai pengawal pribadi mestinya dia ‘nempel’ bersama Kapolda atau setidaknya di kantor, bukan di rumah dinas.Kalau mau bersihkan senjata bukan di jam dinas, tetapi saat selesai tugas baru membersihkan senjata.

Anton menyarankan, Polri harus terlebih dahulu melakukan uji balistik dan forensik untuk menentukan apakah peluru yang ada dalam senjatanya sama dengan yang bersarang di tubuh korban.Pengujian itu juga untuk menemukan asal muasal peluru dan posisi senjata.

Selain itu menurutnya,Polri harus mengecek tes psikologi kepemilikan senjata api korban apakah lulus atau tidak.Kalau ternyata gagal, maka akan jadi persoalan mengapa dipilih menjadi pengawal pribadi. Alasan kelalaian tidak masuk nalar.

“Kami berharap, Mabes Polri harus mengambil alih penyelidikan kasus ini, begitu juga Komnas HAM turun untuk menginvestigasi agar publik percaya, Bareskrim Puslabfor agar menurunkan dokter-dokter forensik. Hal itu agar hasil penyelidikan bisa dipertanggungjawabkan ke pihak keluarga dan publik,”harapanya.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit berkata telah memerintahkan anak buahnya mengusut tuntas kasus ini dengan menurunkan tim dari Divisi Propam untuk mengawasi dan memastikan proses penanganan sesuai standar yang berlaku.

Pemeriksaan awal tim dokter menyebutkan, nadinya sudah tidak berdenyut saat ditemukan.Berdasarkan hasil autopsi yang dilakukan pada Sabtu (23/9/2023), penyebab kematian Brigpol Setyo karena luka tembak pada dada sisi kiri menembus jantung dan paru yang mengakibatkan pendarahan hebat, kata Kabid Humas Polda Kaltara, Kombes Budi Rachmat, seperti dilansir Detik.com.

Dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), sambungnya, Brigpol Setyo diduga tewas tertembak saat sedang membersihkan senjata api miliknya.Pasalnya siang itu korban baru pulang salat Jumat, kemudian masuk kamar.

Budi Rachmat menepis dugaan korban tewas karena bunuh diri.

”Kalau bunuh diri asumsinya jauh, karena kalau fakta-fakta ke situ tidak ada. Dia orangnya enggak ada masalah, saya kenal baik sama dia,”ungkap Budi.

Pada Minggu (24/9/2023), jenazah Brigpol Setyo Herlambang dimakamkan di desa Sumber Agung Kendal Jawa Tengah.

Prosesi pemakaman berlangsung secara militer dengan salvo tembakan satu kali, tanda peti jenazah mulai dimasukkan ke liang kubur.

(Red)