Ritual Penjamasan Dua Pusaka Sunan Kalijaga Demak Songsong Bulan Suro

Demak Jateng, SIBER88.CO.ID_Ritual Penjamasan dua pusaka peninggalan Sunan Kalijaga Demak merupakan kearifan lokal spiritualis,mistis dan realistis sebuah upacara adat yang digelar setiap tahunnya tiap tanggal 10 Dzulhijjah atau tepatnya di Hari Raya Haji.

Jika semua orang muslim sedunia melakukan rukun Islam ke tanah Suci Makah, maka di wilayah Demak khususnya di bumi Perdikan Kadilangu tempat makam Sunan Kalijaga,dilaksanakan ritual sakral yaitu Penjamasan Pusaka ( Pensucian atau Membersihkan ).

Penjamasan yang dilakukan di makam Sunan Kalijaga ini tentunya beda dengan penjamasan keris-keris pada umumnya yang justru dijamasi pada bulan suro atau Muharam,perbedaan tersebut pada praktek saat menjamasi,biasanya dalam menjamasi keris umumnya dicuci memakai air bunga, atau direndam air kelapa,kemudian digosok dengan jeruk nipis lalu dikeringkan,setelah itu baru diwarangi supaya terlihat pamornya.

Hal ini sangat beda dengan penjamasan pusaka milik Kanjeng Sunan Kalijaga yang penuh nuansa ritual kesakralan,diawali dengan tirakat puasa dan meditasi penuh konsentrasi,supaya dalam pelaksanaan menjamasi Pusaka Kanjeng Sunan Kalijaga dapat berjalan lancar dan aman.

Dalam menjalankan penjamasan kesakralan pusaka tersebut,para ahli waris yang melaksanakan tugas harus melakukan berbagai tahap ujian, keunikan atau keanehan yang diluar akal atau nalar akan terjadi setiap tahunnya.

Kedua pusaka Kanjeng Sunan Kalijaga yaitu Kanjeng Kyai Kotang Ontokusumo dan Kanjeng Kyai Keris Carubuk yang disimpan dalam sebuah peti yang terdapat diatas pusara makam Kanjeng Sunan Kalijaga itu diturunkan dan diambil untuk dipangku yang kemudian dibuka dengan sebuah kunci kuno,dalam membuka kunci inipun tidak semudah membuka gembok seperti pada umumnya walaupun keliatan pekerjan tesebut nampak sederhana akan tetapi bila mengalami sesuatu hal yang ganjil peti pusaka juga terasa sangat sulit dibuka.

Ini hanya permulaan awal saja,justru yang di luar nalar apabila sudah mulai melakukan penjamasan Kotang Ontokusumo dan Keris Kyai Carubuk,maka akan memberikan sinyal atau tanda-tanda alam yang terdapat pada kedua pusaka tesebut.

Dawuh dari pinisepuh dahulu mengajarkan bahwa hasil dari tanda penjamasan kedua pusaka tesebut, merupakan sinyal atau pertanda kejadian bagi kondisi negara dalam setahun kedepan, tentunya dalam hasil penjamasan kedua pusaka tesebut hanya untuk intern keluarga khususnya tim yang melakukan penjamasan kedua pusaka tesebut.

Tentunya kita selalu berharap bahwa kondisi alam dan negara selalu berjalan baik dan kondusif.

Kita berharap alam ini selalu bersahabat tanpa menimbukan bencana alam serta negara selalu terjaga kondusifitas baik segi keamanan ataupun kesejahteraan bagi rakyat gemah ripah loh jinawi,walaupun semua penentu adalah sang Maha Pencipta,manusia hanya diwajibkan berdoa untuk memohon.

Tentu hal ini akan menimbulkan pemikiran yang kontradiktif bagi orang yang mengedepankan akal, akan tetapi dalam proses penjamasan kedua pusaka Kanjeng Sunan Kalijaga terdapat nilai mistis ataupun hal ghaib.

Hal inilah merupakan upacara adat penjamasan Pusaka Kanjeng Sunan Kalijaga harusnya dilindungi dalam aspek segi budaya pelestariannya,mengingat dalam kurun waktu beberapa tahun ke belakang terjadi dualisme penjamasan yang dilakukan oleh dua pihak meski dalam penjamasan tahun ini satu pihak bisa membuktikan bahwa pihak merekalah yang mampu menjamasi dengan memasukan beberapa orang dari unsur aparat keamanan yaitu dari Polres,Koramil Kota Demak dan Perwakilan dari unsur Pemda Kabupaten Demak.

Ritual Penjamasan itu sendiri bertujuan untuk menguak misteri pihak siapakah yang benar melakukan Penjamasan Pusaka Kotang Ontokusumo dan Keris Kyai Carubuk milik Kanjeng Sunan Kalijaga.

Kini bagaimana kita menyikapi sejarah ini dengan arif dan bijaksana khususnya tentang Upacara Penjamasan Pusaka Sunan Kalijaga tentunya harus dijaga eksistensinya sebagai budaya lokal ataupun skala nasional jangan sampai di Explotasi oleh pihak yang hanya mencari keuntungan pribadi sesaat pada tiap tahunnya tanpa memperdulikan dan mengedepankan nilai adab,etika serta moral.