Anton Charlyan Jadi Narasumber di FIB Unpad Bahas Anti Stunting dan Naskah Sunda Kuno

Sumedang Jabar, SIBER88.CO.ID_Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Padjadjaran (Unpad) Jatinangor menggelar Seminar Nasional bertajuk “Anti Stunting dalam Naskah Sunda Kuno” di aula Sastra Jepang FIB Unpad pada Minggu (24/5/2026).

Kegiatan yang disponsori Dana Indonesiana dari LPDP tersebut menghadirkan sejumlah akademisi dan budayawan nasional sebagai narasumber.

Salah satu narasumber yang hadir adalah tokoh nasional Budayawan Sunda, DR Drs H Anton Charliyan MPKN, yang akrab disapa Abah Anton Charly. Selain dikenal sebagai budayawan, ia juga berprofesi sebagai dosen di STISIP Tasikmalaya.

Turut hadir sebagai pembicara lainnya antara lain Prof Dr Nurhayati R dari Unhas, perwakilan Warek FIB Unpad, Dr Elis N Suryani, Dr Undang Ahmad Darsa dari Unpad, serta Wina Erwina PhD dari Universitas Komunikasi. Seminar dipandu moderator Dr Rahmat Sopian dari FIB Unpad.

Dalam paparannya, Abah Anton Charly yang saat ini menjabat sebagai Ketua Umum Majelis Adat Sunda menyampaikan bahwa konsep pencegahan stunting ternyata telah dikenal sejak masa leluhur nusantara dan tercatat dalam berbagai naskah kuno.

“Program anti stunting ternyata sudah tercatat dalam naskah peninggalan leluhur kita sejak dahulu. Artinya, para pendahulu bangsa ini telah memiliki pengetahuan kesehatan dan pola hidup sehat yang sangat maju,” ungkap Abah Anton Charly.

Ia menjelaskan, dalam naskah Sunda kuno Sanghyang Titisjati Pralina terdapat panduan rinci mengenai perawatan bayi sejak dalam kandungan usia satu bulan hingga lahir dan tumbuh menjadi balita sehat dan kuat.

Sementara dalam naskah Lagaligo dari Bugis disebutkan bahwa ibu hamil dan anak balita diwajibkan mengonsumsi ikan, terutama ikan laut, agar pertumbuhan tubuh sehat dan tinggi. Tradisi tersebut diyakini menjadi bentuk edukasi kesehatan masyarakat sejak zaman dahulu.

Selain itu, berbagai daerah di nusantara juga memiliki warisan pengobatan tradisional yang berkaitan dengan kesehatan dan pencegahan penyakit, diantaranya Lontar Ushada Taru Pramana dari Bali yang mencatat khasiat ratusan tanaman obat, Serat Centini dan naskah Merapi-Merbabu dari Jawa yang memuat ramuan jamu, teknik pijat, yoga, hingga pengobatan tradisional.

Sedangkan dari Sumatra dikenal Pustaka Laklak yang memuat ramuan obat dan mantra pengobatan tradisional.

Abah Anton Charly juga menjelaskan bahwa metode pengobatan anti stunting pada masa lalu dilakukan melalui beberapa pendekatan, seperti terapi herbal atau filo therapy, pijat tradisional oleh paraji dan ahli pengobatan, hingga metode spiritual melalui doa, mantra, puasa dan simbol tolak bala.

“Pada masa lalu, pengobatan spiritual dilakukan oleh orang-orang yang benar-benar ahli dan dianggap suci seperti wali, resi, pandita, maupun brahmana. Karena itu keberadaannya diakui masyarakat sebagai salah satu metode pengobatan,” jelasnya.

Menurutnya, memasuki abad ke-19, berbagai ilmu pengobatan tradisional tersebut mulai ditulis dalam bentuk buku yang dikenal sebagai primbon atau paririmbon.

Ia menambahkan, sejumlah naskah kuno berharga seperti Sanghyang Titisjati Pralina, Lagaligo, Lontar Ushada Taru Pramana, Serat Centini, hingga Kidung Rumekso Ing Wengi kini tersimpan di Museum Nasional dan beberapa museum daerah.

“Luar biasa peninggalan para leluhur kita. Semua itu menjadi bukti bahwa bangsa ini sejak dahulu sudah memiliki ilmu kesehatan, pengobatan dan perawatan generasi yang sangat maju,” tutup Abah Anton Charly.

Seminar nasional tersebut mendapat perhatian besar dari kalangan akademisi, mahasiswa dan pemerhati budaya karena dinilai mampu membuka wawasan tentang pentingnya menggali kembali kearifan lokal Nusantara dalam mendukung program kesehatan masyarakat modern, khususnya penanganan stunting.