Sejumlah Sekolahan di Wilayah Sinjai Keluhkan Kualitas MBG

Sinjai Sulsel, SIBER88.CO.ID_ Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diproduksi Dapur Sanjai di Desa Sanjai Kecamatan Sinjai Timur Kabupaten Sinjai kini menjadi sorotan.

Sejumlah sekolah penerima manfaat mengeluhkan kualitas makanan yang dibagikan kepada siswa, khususnya lauk ayam yang diduga berbau dan tidak layak konsumsi.

Keluhan tersebut disampaikan oleh pihak sekolah yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Mereka mengaku beberapa kali menemukan lauk ayam dalam kondisi tidak segar, sehingga makanan tersebut tidak dikonsumsi oleh siswa.

“Anak-anak tidak mau makan karena ayamnya berbau. Kami khawatir ini berdampak pada kesehatan siswa,” ungkap sumber tersebut, Jum’at(30/1/2026).

Tak hanya soal kualitas lauk, penyajian dan distribusi makanan juga menuai kritik. Beberapa paket MBG dilaporkan tidak tertata dengan baik.

Bahkan, kuah makanan disebut bercampur dengan buah, memunculkan tanda tanya besar soal standar kebersihan dan higienitas program yang digadang-gadang untuk meningkatkan gizi siswa itu.

Menanggapi polemik tersebut, anggota DPRD Sulsel, Heriwawan, saat dikonfirmasi wartawan menegaskan bahwa dirinya tidak terlibat langsung dalam operasional MBG. Ia menyebut posisinya hanya sebagai investor di yayasan pengelola.

“Saya hanya berinvestasi di yayasan. Terkait persoalan ini, yang bertanggung jawab penuh adalah pihak yayasan,” tegas Heriwawan.

Ia juga menyatakan bahwa kelayakan dan kualitas menu MBG berada di bawah pengawasan tiga orang Pengawas Ahli Gizi (PAG).

“Apakah makanan itu layak konsumsi atau tidak, ada tiga PAG yang mengawasi,” tambahnya.

Namun, ketika ditanya lebih jauh soal dugaan adanya kerjasama antara pengelola yayasan dan Pengawas Ahli Gizi, Heriwawan belum memberikan keterangan rinci.

“Nanti saya tanyakan ke pengelolanya,” ujarnya singkat.

Sementara itu, pihak Yayasan Astaka selaku pengelola MBG melalui Iskandar membantah keras tudingan makanan basi atau berbau.

Ia menyebut menu yang dipersoalkan merupakan menu hari Rabu yang sempat viral di media sosial.

“Pada hari itu tidak ada makanan yang dikembalikan. Artinya, makanan tersebut habis dimakan oleh anak-anak,” jelas Iskandar.

Menurutnya, jika benar terdapat makanan basi, seharusnya seluruh menu pada hari tersebut mengalami kondisi serupa.

Meski demikian, Iskandar mengakui pihaknya tidak menutup mata terhadap keluhan tersebut.

Ia menyebut laporan itu akan dijadikan bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas layanan MBG ke depan.

“Kami terus berupaya memperbaiki kualitas. Justru laporan seperti ini bagus sebagai bahan evaluasi. Bisa jadi ada satu atau dua ompreng yang terkontaminasi sehingga menimbulkan bau,” kata dia.