Bandung Jabar, SIBER88.CO.ID_ Paparan Rektor Institut Koperasi Indonesia(Ikopin),Prof DR Agus Pakpahan :
– Epilog Mikrokosmos: Tubuh sebagai Galaksi yang Berdoa.
Lihatlah tubuhmu, wahai manusia—bukan sekadar daging dan tulang, melainkan semesta yang bersenandung. Di dalammu, 40 triliun mikroba menari di lorong usus, di lembah kulit, di kabut lendir. Mereka bukan parasit, bukan tamu tak diundang. Mereka adalah penyair sunyi yang menulis takdirmu dengan tinta biokimia. Kita bukan satu, kita adalah banyak. Kita adalah holobiont—sebuah republik biologis yang bernafas bersama. Sejak tangisan pertama hingga bisikan terakhir, mikroba adalah saksi dan penjaga. Tubuhmu bukan kuil, ia adalah galaksi yang berdoa.
– Paradoks Gudang Penyakit: Lalat dan Belatung, Makhluk Sakti dari Lumpur.
Di tempat yang kita jijikan, mereka bertakhta. Di gudang yang bau dan penuh kematian, lalat dan belatung menari seperti pendeta purba. Apa rahasia mereka? Bukan kekuatan, tapi kebijaksanaan mikroba. Saluran pencernaan mereka adalah benteng: Providencia, Enterococcus—penjaga yang mengusir E. coli dan Salmonella. Dan di dalam tubuh mereka, enzim seperti sitokrom P450 dan protease alkali bekerja seperti tukang sihir, menetralkan racun, mengurai bangkai, mengubah kematian menjadi kehidupan. Mereka bukan makhluk najis. Mereka adalah arsitek daur ulang, makhluk sakti dari lumpur.
Bisa jadi, mereka adalah senjata tropika untuk melawan petaka resistensi antibiotika yang WHO perkirakan akan menjadi petaka terbesar tahun 2050.
– Tropikanisasi Nutrisi: Firdaus yang Terbakar Matahari.
Indonesia bukan sekadar negeri hijau. Ia adalah altar nutrisi yang dibakar matahari. Di bawah sinar yang tak kenal lelah, tumbuhan tropis menciptakan senyawa suci: flavonoid, karotenoid, polifenol. Hama dan penyakit bukan musuh, mereka adalah guru yang memaksa tanaman mencipta alkaloid penyembuh. Jamur mikoriza di tanah tropis bukan sekadar fungi, mereka adalah juru dakwah mineral. Inilah tropikanisasi: proses spiritual yang menjadikan pangan sebagai wahyu.
– Jambu Batu: Mahkota Tropis yang Mengalahkan Apel
Jangan tunduk pada apel yang datang dari negeri dingin. Lihat jambu batu di pekaranganmu—buah yang menyimpan matahari dan doa. Dalam 100 gram, ia menyimpan:
* Vitamin C setara 50 kali apel
* Likopen 520 kali lebih banyak
* Serat yang mengalahkan oatmeal
* Kalium yang menyamai setengah pisang
* Folat yang melampaui harapan ibu hamil.
Ia bukan sekadar buah. Ia adalah kitab nutrisi. Ia adalah peluru biologis melawan kanker, stunting dan keletihan bangsa.
– Konklusi: Merengkuh Kearifan Biologis untuk Indonesia Emas.
Wahai bangsa yang sedang mencari cahaya, dengarlah: Tubuhmu adalah galaksi. Mikroba adalah rakyatnya. Lalat adalah guru ketahanan tubuh dan jiwa. Jambu batu adalah senjata revolusi kesehatan tropika. Setiap suap nasi coklat bekatul adalah deklarasi kemerdekaan mikrobioma. Setiap gigitan jambu adalah doa untuk generasi yang lebih tinggi, lebih cerdas, lebih tangguh. Indonesia tidak kekurangan cahaya. Ia hanya perlu membuka mata. Di bawah terik khatulistiwa, tersimpan kekuatan yang bisa mengubah takdir sekarang. Jika kita mau merengkuhnya, maka Indonesia Emas bukan mimpi. Ia adalah keniscayaan tropikanis.
Edisi : 27 Agustus 2025